Massa aksi dari FPBI sedang mendengarkan orasi ilmiah tentang tuntutan yang dibawakan. Foto: Abdi

MALANG-KAV.10 Forum Mahasiswa Hukum Peduli Keadilan (Formah PK) dan Front Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) menggelar aksi peringatan Hari Buruh Sedunia di depan Balai Kota Malang, pagi tadi. Massa aksi membawa tujuh tuntutan yang harus segera diselesaikan terkait dengan persoalan buruh.

Koordinator Lapangan aksi dari Formah PK Amry Algifary menyebutkan dua hal yang paling nyata dirasakan oleh buruh di Malang Raya yaitu terkait upah murah dan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak. Menurutnya, kasus PHK sepihak masih sering terjadi bagi buruh perusahaan di Pakis, Kabupaten Malang.

Upah murah yang diterima para buruh bagi Amry merupakan hal yang sangat tidak manusiawi. “Kita tolak upah murah karena buruh bekerja sekeras-kerasnya tetapi mereka mendapat upah yang sangat murah. Anak-anak mereka terancam tidak bisa sekolah,” jelas Amry

Baca Juga: Prekariat: Semua Kelas Pekerja Itu Rentan

Menurut Ketua FPBI Luthfi Chafidz, hal semacam itu terjadi lantaran perusahaan enggan mengeluarkan ongkos usaha yang terlalu besar. Luthfi berpendapat, selama ini perusahaan masih mementingkan ongkos usaha sehingga berdampak pada pemutusan kerja atau pengurangan upah.

“Ya kalau perusahaan kan bicara soal cost [ongkos], dia (perusahaan, red) gak mau cost perusahaannya besar. Bussiness is war, bisnis tuh perang. Dibunuh atau membunuh,” ujar Luthfi.

Aksi Hari Buruh hari ini juga dihadiri sejumlah buruh asal Surabaya yang pernah terkena PHK. Afandi, buruh yang terkena PHK, menyatakan bahwa ia dan rekan-rekannya mendapat PHK secara sepihak dari Platinum Ceramic di Surabaya sekitar delapan bulan yang lalu.

“Ketika itu, ada 409 orang yang mendapat PHK. Awalnya kita berniat memberikan solidaritas kepada kawan-kawan kami sebelumnya yang berjumlah 39 orang terkait pemotongan upah dan skorsing. Kira-kira satu bulan setelahnya, kami mendapat surat bahwa kami tidak lagi bekerja di sana,” ungkap Afandi.

Baca Juga: Isu Papua Bergema di Momentum Mayday

Selain dua tuntutan tersebut, tuntutan yang dibawab antara lain, menolak diskriminasi terhadap buruh, menolak pegawai kontrak, menginginkan pelayanan BPJS yang baik, dan menolak union busting, sebuah upaya dari perusahaan untuk mencegah para pekerjanya berkumpul dan berserikat.

Dalam aksi yang usai pada pukul 13.00 WIB ini, massa terbagi menjadi dua kelompok aliansi. Aliansi Mahasiswa Malang Bersatu (AMMB) terdiri dari 20 organisasi kemahasiswaan di Malang dan Aliansi Rakyat Malang Bersatu (ARMB) terdiri dari 29 organisasi dari elemen mahasiswa, masyarakat, dan berbagai kelompok buruh.

Penulis: Abdi Rafi Akmal
Editor: Nuris Hisyam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.