Rektor UB Nuhfil Hanani sedang menyampaikan poin-poin kesepakatan dengan pihak mahasiswaterkait tuntutan yang dibawakan di depan Gedung Rektorat, Senin (01/04) pagi. Foto: Abdi

MALANG-KAV.10 Sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya (AMARAH Brawijaya) melangsungkan aksi di depan Gedung Rektorat pada pukul 09.42 WIB (01/04). Massa menuntut pihak rektorat untuk mencabut kebijakan pelarangan ojek dalam jaringan (daring) masuk UB.

Setelah berunding selama satu jam lebih dengan tujuh orang negosiator dari pihak AMARAH Brawijaya, Rektor UB Nuhfil Hanani akhirnya mengabulkan tuntutan tersebut.

“Ojek daring sudah diperbolehkan masuk lagi. Sedangkan masukan dari perwakilan (negosiator, red) Anda tidak boleh antar dan jemput di sembarang tempat. Jadi kita nanti akan menentukan daerah tertentu yang menjadi dropzone,” ujar Nuhfil.

Dropzone sendiri merupakan tempat khusus bagi pengemudi ojek daring untuk menurunkan dan menjemput penumpang. Rencananya, Nuhfil dan pihak mahasiswa akan terlibat bersama dalam menentukan titik dropzone di UB. Selain itu, Nuhfil juga berharap supaya mahasiswa khususnya massa aksi membantu pihak rektorat menjaga lingkungan UB bebas dari pengemudi ojek daring yang mangkal.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa shuttle bus di UB tidak akan beroperasi lagi. “Bis nanti tidak akan ada yang beroperasi lagi. Jadi tidak perlu keluar biaya dan (biayanya, red) dapat difungsikan untuk fungsi-fungsi yang lain, terutama kegiatan akademik,” katanya.

Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) Muhammad Sandy Abdillah turut menyebutkan dua kesepakatan lain yang dicapai bersama rektor. Pertama, ojek daring harus mematuhi beberapa ketentuan untuk bisa masuk UB. Kedua, pihak rektorat akan bekerjasama dengan institusi ojek daring untuk memberikan sanksi kepada pengemudi yang melanggar ketentuan dari UB.

“Ojol (Ojek Online) dapat memasuki area kampus jika membawa penumpang. Kalau akan menjemput, ojol wajib menunjukkan orderannya kepada satpam yang sedang berjaga. Dan ketentuan terakhir, ojol dilarang ngetem di kampus,” kata Sandy yang menjadi salah satu negosiator.

Sandy menjelaskan, pihak AMARAH Brawijaya nanti akan bertemu lagi dengan pihak rektorat pada pukul 16.00 sore ini (01/04) untuk membahas lebih lanjut terkait dropzone. Selain dari AMARAH Brawijaya, dikabarkan akan ada beberapa anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UB yang mengikuti pertemuan tersebut.

Meski proses perundingan sempat berjalan alot, ia bersyukur karena rektor mau mengabulkan tuntutan yang dibawakan. Selanjutnya, ia mengatakan akan membantu pihak rektorat dalam menentukan dropzone di UB.

“Tadi tuh kan alot karena kita beda pendapat. Kita kesulitan untuk menyusun diksi atau redaksional yang pas. Tapi alhamdulillah, poin-poin tuntutan mahasiswa dilaksanakan semua,” pungkasnya.

Penulis: Abdi Rafi Akmal
Editor: Abdi Rafi Akmal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.