Lulu Nafiz Fauziyah

Pemberlakuan e-tapping yang masih menjadi rencana ibarat tangan yang meraih burung di awan, alangkah baiknya kita membiasakan terlebih dahulu untuk tertib saat berada di lingkungan kampus kita tercinta ini.

Lulu

E-tapping menjadi usulan beberapa fakultas saat audiensi bersama dengan rektorat pada tanggal 18 Maret 2019. Usulan tersebut di latarbelakangi atas kebijakan rektorat tentang kartu parkir dan stiker yang menjadi pembahasan bagi mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Walaupun kebijakan mengenai stiker atas kendaraan yang memasuki kawasan kampus biru ini, sudah pernah diterapkan sebelumnya. Namun itu menjadi berbeda dari kebijakan yang lalu, dengan berlakunya shuttle bus serta tidak bolehnya ojek online memasuki UB.

Penyataan-pernyataan mengenai keamanan dan sistem parkir yang digaungkan oleh mahasiswa pada aksi sakral 2 Mei (aksi hari pendidikan ,red) dianggap oleh rektorat telah terjawab dengan adanya stiker dan kartu parkir. Permasalahan selanjutnya yang menjadi janggal dengan kebijakan itu, menurut mahasiswa saat audiensi berupa pengawasan oleh petugas yang kurang, serta ojek online yang tidak boleh masuk. Karena, saat malam hari beberapa mahasiswa masih ada kegiatan di dalam kampus, sehingga akan berbahaya bagi mahasiswa perempuan yang melintasi kawasan UB menuju driver ojek online. Sehingga munculah usulan mengenai e-tapping oleh perwakilan mahasiswa saat audiensi. Lalu apakah sebenarnya e-tapping itu? Apakah kebijakan tersebut sesuai jika dilaksanakan di UB? Apakah kebijakan tersebut sudah pernah ada yang menggunakan di kawasan kampus lainnya?

Mengenai e-tapping, penjelasan awam saat orang mendengar hal itu pastinya berkaitan dengan sistem yang menggunakan teknologi, serta memberikan data yang menunjukkan kehadiran ataupun keberadaan di sebuah institusi. E-tapping juga bisa di bayangkan sebagai kartu parkir yang secara otomatis dapat digunakan dan diintegrasikan ke dalam kartu tanda mahasiswa (KTM). Contoh pemandangan menggunakan e-tapping salah satunya dapat dilihat saat memasuki kawasan tol serta akan menaiki MRT sebagai tiketnya. Jika usulan tersebut menjadi kebijakan nantinya, maka pengertian e-tapping bagi UB adalah sebagai alat yang digunakan mahasiswa untuk membawa kendaraannya masuk ke dalam kawasan UB.

E-tapping memang masih menjadi usulan dari mahasiswa kepada rektorat, namun tidak menutup kemungkinan bahwa usulan tersebut akan menjadi kebijakan yang berlaku di kawasan UB. Pertimbangan-pertimbangan untuk mengkaji e-tapping pastinya banyak aspeknya, salah satu contohnya adalah melihat dan belajar dari kebijakan yang sudah ada di universitas yang sudah mapan dalam keamanan, ketertiban, dan kenyamanan. Selain itu melihat tujuan dan prosentase manfaat saat kebijakan tersebut diterapkan bagi semua keluarga UB.

Baca juga:  Pemeriksaan STNK Tidak Efektif, UB Wacanakan Kartu Parkir 

Pergantian kebijakan yang sudah dilakukan untuk mengatasi pencurian, macet, dan kerapian dalam parkir sudah dilakukan oleh rektorat. Hanya saja beberapa kebijakan tidak dijalankan dengan berdiskusi kepada mahasiswa, salah satunya adalah stiker dan kartu parkir. Selama diberlakukan pada tanggal 17 Januari 2019 hingga sekarang ini, mungkin belum dapat terlihat hasil dari kebijakan tersebut. Namun yang menjadi ikon dari kebijakan itu pastinya pemberlakuan shuttle bus bagi mahasiswa yang berjalan kaki. Tapi, opsi shuttle bus ini terlihat kurang matang untuk dilaksanakan. Karena UB sepertinya lupa tentang rancangan menjadi kampus hijau (green campus) yang dikejar beberapa tahun ini. Selain itu, biaya yang dibutuhkan untuk bahan bakar bus, serta titik lokasi penjemputan belum merata di setiap fakultas. Pada akhirnya kebijakan ini juga diberhentikan pada 5 April 2019 dengan realisasi shuttle bus tidak berjalan lagi.

Kebijakan stiker dan kartu parkir selama ini mungkin bisa dirasakan manfaatnya mengenai ketertiban pengendara dan kemacetan yang selama ini menjadi masalah bersama bagi mahasiswa maupun civitas akademika yang ada di UB. Ojek online dilarang masuk kawasan kampus, merupakan bentuk usaha untuk merapikan serta mengatasi kemacetan yang ada, walaupun terkadang tidak konsisten dengan kunjungan siswa-siswa SMA yang membawa bus-bus besar untuk diperbolehkan masuk di kawasan UB. Pada akhirnya juga pada tanggal 8 April 2019 dilakukan pencabutan kebijakan Ojek online dilarang masuk kampus.

Baca juga: Aturan Baru Ojek Daring Berlaku Efektif Sepekan Kemudian 
Infografis/oky

Melihat kebijakan yang telah diberlakukan UB, contohnya penunjukan STNK pada setiap kendaraan yang keluar kawasan UB masih menjadi hal yang realistik dilakukan untuk menciptakan kondisi tertib, aman, dan nyaman untuk sekarang ini. Salah satu kuncinya adalah pengecekan itu dilakukan secara ajeg oleh petugas. Kemudian, petugas yang bertugas untuk melihat STNK saat kendaraan keluar harus selalu ada pada pintu masuk UB setiap waktu. Walaupun sekarang ini esensi dari menunjukkan STNK kepada petugas dirasa kurang efisien, namun hal itu baik jika dilakukan secara serius. Hal itu sama terlihat dari kebijakan stiker dan kartu parkir yang saat ini dilakukan merupakan langkah yang apik, jika dilakukan ajeg serta serius.

Kebijakan-kebijakan mengenai sistem parkir jika melihat yang sudah berlaku di kampus lainnya, beberapa telah memiliki kebijakan yang di atur dalam SOP (Standard Operating Procedure), serta bisa diakses oleh semua orang di kampus secara online di website universitasnya. Walaupun ada beberapa universitas yang mengaturnya secara manual ataupun diserahkan kepada penjaga di setiap kantong parkir, setelah itu setiap kendaraan yang masuk di wilayah kampus akan dikenai biaya. Jika UB memberlakukan parkir dengan berbayar, apakah hal yang sama akan terjadi seperti sekarang ini? Banyak perwakilan dari fakultas untuk melakukan audiensi bahkan membuat aksi seperti yang dilakukan pada tanggal 1 April 2019 kemarin.

Baca juga: Rektor Kabulkan Tuntutan Mahasiswa, Ojek Daring Diperbolehkan Kembali Masuk UB 

Sistem mengenai keamanan, ketertiban, dan kenyamanan seharusnya disusun dengan berdiskusi, serta mempertimbangkan tujuan serta manfaat bagi UB khususnya. Adanya pembuatan SOP ataupun buku saku mengenai hal-hal kecil bersangkutan dengan kenyamanan yang ada di UB, dapat belajar dengan mencontoh UGM. Nantinya di dalam buku saku tersebut dijelaskan segala aspek yang berkaitan tentang lingkungan, fasilitas kampus, ketertiban lalu lintas kampus, serta hal lainnya.

E-tapping menjadi usulan yang bagus serta, bila itu terjadi pastinya banyak yang akan diuntungkan. Efisiensi waktu dalam menjaga ketertiban dan keamanan bisa terjamin dengan pembuatan e-tapping. Namun hal itu juga harus dipertimbangkan terlebih dahulu, dan tidak secara langsung diterapkan sebagai sistem yang satu-satunya cocok bagi UB saat ini. Pastinya kemanan, ketertiban, serta kenyamanan bukan hanya tanggung jawab yang diemban oleh rektorat saja, melainkan semua yang ada dalam lingkungan UB memiliki kewajiban dalam menjaganya.

Pemberlakuan e-tapping yang masih menjadi rencana ibarat tangan yang meraih burung di awan, alangkah baiknya kita membiasakan terlebih dahulu untuk tertib saat berada di lingkungan kampus kita tercinta ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.