Foto: cgv.id

Oleh: Debbie Julia Gibson

Sekuel Film Yowis Ben telah tayang serentak di bioskop pada 14 Maret 2019 lalu, dengan judul yang tidak jauh berbeda dengan film sebelumnya yaitu Yowis Ben 2. Film produksi Starvision ini disutradarai oleh Fajar Nugros dan Bayu Skak  yang juga berperan sebagai salah satu tokoh utama dalam film ini. Tidak hanya menggandeng artis, Yowis Ben 2 menggandeng berbagai kalangan untuk turut andil dalam memerankan tokoh-tokoh dalam film seperti selebgram Anya Geraldin yang berperan menjadi Asih. Meskipun banyak juga yang mempertanyakan kenapa tokoh seperti Ridwan Kamil dan Gibran Rakabuming misalnya, turut ambil bagian pada film tersebut.

Film dibuka dengan penampilan Yowis ben yang digawangi oleh Bayu (Bayu Skak), Doni (Joshua Suherman), Yayan (Tutus Thomson), dan Nando (Brandon Salim) tampil pada acara pentas seni kelulusan mereka lengkap dengan lagu dari Yowis ben. Kisah baru dimulai ketika Bayu, yang pada film sebelumnya telah berhasil merebut hati Susan (Cut Meyriska), ternyata harus menelan kenyataan untuk berpisah dengan pacarnya yang akan melanjutkan sekolah ke luar negeri. Tidak hanya satu masalah ini yang muncul pada awal cerita. Bayu yang telah lulus dari sekolah menengah atas dihadapkan pada masalah keuangan keluarganya, hutang kontrakan yang harus segera dilunasi.

Konflik awal tersebut membuat  Bayu harus mencari penghasilan disela-sela patah hatinya. Singkat cerita, karena tidak menemukan penghasilan yang cukup di Malang, Bayu dan bandnya menerima tawaran produser musik untuk hijrah ke Bandung mengembangkan Yowis Ben. Tidak berjalan lancar, permasalahan-permasalahan justru muncul. Mulai dari Pecahnya Yowis Ben, sampai dengan produser barunya yang ternyata seorang penipu.

Namun seperti film-film bergenre drama lainnya, tidak lengkap rupanya jika kisah pada film ini tidak dilibatkan dengan drama-drama percintaan khas anak muda. Bayu yang membawa patah hatinya ke bandung, bertemu “mojang bandung” bernama Asih. Tidak hanya itu, kisah cinta para personil yowis band lainnya juga turut ambil bagian dalam menciptakan guyonan serta bumbu-bumbu drama ringan. Tidak jauh berbeda memang intrik yang diangkat dalam Yowis Ben 2 dengan film sebelumnya.

Meski begitu konflik-konflik klise ini dapat dibawakan dengan baik oleh para pemainnya. Sehingga membuat permasalahan yang timbul tidak tampak berlebihan dan terlalu dibuat-buat. Dari sini penonton akan lebih mudah dibawa masuk menuju alur film yang natural dan dekat dengan permasalahan sehari-hari, terutama kalangan remaja. Film ini dapat dibilang mampu membawa emosi penonton dari awal cerita yang jenaka menjadi menyentuh.

Mengobati kekurangan alur ceita yang tidak begitu berbeda dengan film sebelumnya, Yowis Ben 2 menawarkan komedi Guyonan khas Jawa yang lebih jenaka. Komedian kondang Jawa Timur seperti Kartolo, Cak Wito juga ambil bagian membangun kelucuan namun dengan cita rasa “Ludruk” yang disisipkan dalam cerita modern dengan segmentasi remaja.  Ambil saja contoh adegan ketika Kartolo dan Cak Wito melontarkan pantun, yang dalam budaya Jawa sering disebut Parikan yang begitu melekat pada pementasan Ludruk.

Bila dicermati lagi, Film ini memang menyuguhkan nuansa lokal untuk dinikmati para muda-mudi jaman sekarang. Mulai dari pemilihan salah satu lokasi syutingnya di Kampung Warna-Warni Jodipan Malang, tetap konsisten dengan lagu-lagu berbahasa Jawa yang musiknya dapat dinikmati oleh masyarakat luas sampai “banyolan-banyolan” Jawa timur-nya. Mungkin termasuk juga  penjelasan Bayu pada penggunanaan kata khas Jawa, “Janc*k” yang banyak dilontarkan untuk membangun cita rasa lokal pada film ini. Pada film kedua ini sutradara berusaha menampilkan keberagaman namun tetap bernuansa lokal dengan menampilkan penggunaan bahasa sunda serta dialeg Bali. Walaupun tetap secara dominan masih menggunakan bahasa Jawa Timur-an.

Terlepas dari banyak tanggapan atas kurangnya alur cerita Yowis ben 2, rilisnya film ini menandai mulai bangkitnya film-film daerah di Indonesia. Setelah pada era Orde baru pernah dilarang peredarannya di Nasional. Sebelum Yowis ben dan Yowis ben 2 sukses dipasaran, ada juga film berdialek bahasa daerah yang juga sukses di layar lebar. Misalnya saja Cahaya Dari Timur: Beta Mauluku (2014) bahkan Marlina Si Pembunuh Empat Babak (2017) yang menggunakan dialek Sumba.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.