Menapak di Trotoar UB, Foto: Debbie

Suatu waktu, Hipokrates memandang aktivitas berjalan kaki sebagai ‘obat terbaik manusia’. Seiring dengan jalannya waktu, pernyataan tersebut ada benarnya. Sejumah penelitian menunjukkan segudang manfaat dari berjalan kaki.

Berjalan kaki merupakan aktvitas fisik yang mudah dilakukan orang dari berbagai kalangan. Tidak ada peralatan khusus yang diperlukan untuk melakukan aktivitas ini. Cukup dengan berbekal alas kaki, berjalan kaki bisa menjadi olahraga yang murah dan mudah.

Baca juga: Banjir Genangi Jalan Sukarno Hatta 

Meski aktivitas fisik ini tergolong simpel, ternyata penduduk Indonesia belum gemar melakukannya. Dilansir dari BBC, hasil penelitian Althof, dkk (2017) menunjukkan penduduk Indonesia paling malas dalam hal berjalan kaki. Indonesia menduduki peringkat paling buncit dengan hanya mencatat 3.513 langkah kaki per hari. Jumlah tersebut masih jauh dengan rata-rata jalan kaki penduduk dunia sebesar 4.961 langkah kaki per harinya.

Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab orang malas berjalan kaki. Ketersediaan transportasi yang lebih memudahkan perjalanan ditengarai menjadi salah satu faktor yang membuat orang malas berjalan kaki. Indikasi ini ditunjukkan dengan peningkatan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia dari tahun ke tahun.

Badan Pusat Statisitik (BPS) mencatat jumlah kendaraan bermotor (mobil penumpang dan sepeda motor) pada tahun 2015 mencapai  112,2 juta. Hanya dalam kurun waktu dua tahun setelahnya, pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor telah mencapai 128,4 juta. Tingginya tingkat kepemilikan kendaraan di Indonesia membuat masyarakat menjadi malas berjalan kaki.

Faktor cuaca juga mampu mempengaruhi keinginan seseorang untuk berjalan kaki. Seperti dilansir dari Tirto, Purnawan Basundoro selaku ahli sejarah kota dari Universitas Airlangga menjelaskan, di negara tropis seperti Indonesia, orang akan dengan mudah akan berkeringat ketika berjalan kaki karena cuacanya yang relatif panas. Keringat yang banyak bisa menimbulkan bau badan yang tidak sedap, sehingga orang akan merasa rendah diri di hadapan orang lain.

Bila ditilik lagi dari berbagai alasan bagi kita untuk menaiki kendaraan, manfaat yang didapat dari berjalan kaki sebenarnya dapat sebanding. Sebagai bukti konkritnya diurai dari Kompas, kita dapat melihat penduduk Jepang yang rata-rata berjalan kaki 6.019 langkah per hari. Angka tersebut berbanding lurus dengan angka harapan hidup penduduk Jepang yang mencapai 83,94 tahun. Mereka cenderung masih bugar di usia tuanya.

Kunci kebugaran penduduk Jepang bertumpu pada dua hal, yaitu pola makan yang sehat dan aktivitas fisik, seperti bberjalan kaki, yang rajin dikerjakan. Tapi jika dianggap terlalu jauh memikirkan masa tua atau banyak dari kita yang beranggapan bahwa hidup dan mati seseorang sudah ditakdirkan, maka perlu dipahami bahwa sejumlah penelitian telah menunjukkan manfaat yang bisa diperoleh dari berjalan kaki.

Bermanfaat bagi Jasmani dan Rohani

Di dalam jurnal American Journal of Clinical Nutrition, penelitian yang dilakukan oleh Miriam Nelson dan Sara Folta (2008) menunjukkan kegiatan berjalan kaki ada kaitannya dengan penurunan berat badan. Menjadikan berjalan kaki sebagai aktivitas fisik rutin dapat membuat kita lebih mudah dalam mengontrol berat badan. Lebih banyak aktivitas fisik yang kita lakukan, lebih mudah pula untuk menurunkan berat badan.

Berjalan kaki adalah aktifitas fisik yang paling disarankan karena kemudahannya dan rendahnya kemungkinan cedera. Sementara bagi orang-orang yang telah berhasil menurunkan berat badannya, kemungkinan kembali naiknya berat badan juga dapat dicegah dengan kegiatan berjalan kaki secara rutin.

JALAN KAKI – Berangkat Kuliah dengan Berjalan Kaki, Infografis/Oky

Namun, promosi gaya hidup sehat dengan berjalan kaki masih kalah pamor dibanding dengan makan makanan rendah lemak, makanan pengganti nasi, ataupun memperbanyak asupan sayur dan buah. Padahal, pola makan sehat juga harus diimbangi dengan aktivitas fisik yang menyehatkan.

Dari artikel kesehatan yang diterbitkan oleh Harvard, dikatakan bahwa berjalan kaki dapat menurunkan risiko kolestrol, tekanan darah, diabetes, obesitas, kekakuan dan peradangan pembuluh darah, demensia, penyakit arteri perifer, kanker usus besar, hingga disfungsi ereksi.

Selain itu, berjalan kaki juga terbukti mampu meningkatkan suasana hati seseorang. Miller dan Krizan (2016) melakukan sejumlah eksperimen terkait dengan berjalan kaki pada penelitiannya yang berjudul Walking Facilitates Positive Affect (Even When Expecting Opposite)[. Tiga aspek yang diperhatikan adalah kegembiraan, kepercayaan diri, dan kepedulian.

Mereka setidaknya melakukan tiga kali eksperimen untuk mengetahui peningkatan suasana hati ketika berjalan kaki. Pada setiap eksperimen, aktivitas jalan kaki selalu menunjukkan tren peningkatan terhadap suasana hati. Aktivitas fisik tersebut juga terbukti berdampak lebih signifikan dari aktivitas lainnya seperti duduk dan berdiri.

Seperti diurai dalam laman Anxiety and Depression Association of America. Beberapa penelitian lain juga menunjukkan bahwa olahraga dapat bekerja dengan cepat untuk meningkatkan suasana hati. Meskipun efeknya mungkin sementara,  jalan cepat atau aktivitas sederhana lainnya dapat memberikan beberapa jam bantuan, yang cara kerjanya mirip dengan konsumsi aspirin dalam meredakan sakit kepala.

Ilmu pengetahuan juga memberikan beberapa bukti bahwa orang yang aktif secara fisik memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang lebih rendah daripada orang yang tidak banyak bergerak.

Untuk itu, kegiatan rutin berjalan kaki dapat menjadi pilihan untuk menjalani hari dengan energi yang lebih positif, apalagi sebelum melakukan kegiatan rutinitas kita seperti sekolah, kuliah, atau bekerja. Dengan begitu, emosi juga dapat terkontrol saat dihadapi dengan hal-hal yang membuat stress.

Baca juga: Jalan Veteran, Rawan Jambret 

Masih banyak sebenarnya manfaat lain yang bisa kita dapat dengan berjalan kaki. Dengan berjalan kaki kita juga dapat lebih mengenali lingkungan sekitar, meningkatkan kualitas tidur, membantu mengurangi polusi udara akibat asap buangan kendaraan bermotor, dan lain-lain.

Oleh karena itu, tidak ada salahnya mulai dari sekarang kita membiasakan kegiatan berjalan kaki. Apalagi jika hanya pergi ke tempat yang jaraknya masih bisa terjangkau. Akan lebih baik bila kita tidak terus-terusan bergantung pada kendaraan.

Penulis: Priska Salsabiila
Editor: Abdi Rafi Akmal


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.