sumber gambar: https://nobodycorp.org/
Oleh: Ima Dini Shafira

Dinamikanya juga kurang lebih sama seperti pemilu tahun 2014, meskipun di pemilu tahun ini isu agama benar-benar digoreng hingga gosong bolak balik oleh kedua kubu


            Di tahun politik ini memang banyak sekali fenomena yang terjadi dan menarik untuk terus diikuti. Mulai dari saling serang hoax antar kubu, pencitraan yang ujung-ujungnya blunder, obralan janji yang kurang logis, dan masih banyak lagi yang mungkin jika dijelaskan di opini ini sang editor akan marah karena melebihi batas ketentuan kata padahal belum masuk substansi opini hehe.

Salah satu fenomena yang menghiasi tahun politik kali ini dan tidak kalah menarik adalah trendingnya #2019golput di linimasa twitter. Banyak netijen mengungkapkan keinginannya untuk golput dan mengajak yang lain untuk ikut golput juga. Sebenarnya apa yang membuat para netijen ini koar-koar menyuarakan golput? Yuk kita lihat! Nomor 4 bikin kamu tercengang!

Jika ditelisik lebih lanjut, banyak faktor yang mungkin mempengaruhi pemilih untuk golput dan menjadi golputers (sebutan untuk pendukung golput, red). Yang pertama, sebagai bentuk kekecewaan pemilih terhadap tiap-tiap paslon yang diusung. Paslon dirasa tidak merepresentasikan dan mengakomodir keinginan rakyat serta muak dengan segala obralan janji yang diucapkan. Jika Mahfud MD pernah mengatakan memilih untuk mencegah yang jahat berkuasa, maka golputers ini sudah peduli setan dengan hal itu karena semua calon dirasa sama-sama jahat. Lantas mengapa harus memilih?

Baca juga:  MAHASISWA LUAR KOTA LEBIH MEMILIH GOLPUT 

Kemudian yang kedua, framing media bisa mempengaruhi pemilih untuk golput. Saya sendiri merasakan di linimasa twitter banyak media yang menyebarkan berita dengan menyudutkan salah satu paslon dan itu terjadi secara terus-menerus. Mungkin golputers melihat timeline dengan banyak berita negatif baik seputar paslon maupun rekan-rekan timsesnya. Belum lagi banyaknya hoax-hoax yang beredar. Hal ini akhirnya mengakibatkan persepsi negatif pada pemilih terhadap semua paslon. Ditambah lagi dengan melihat komentar netijen termasuk buzzer-buzzer paslon, semakin yakinlah si pemilih ini menjadi golputers.

Ketiga, pemilih kebingungan untuk menentukan siapa yang akan dipilih. Biasanya hal ini melanda orang yang baru pertama kali memilih tahun ini karena belum mengenal paslon lebih dalam. Atau mungkin, pemilih bingung karena kedua paslon sama-sama tidak masuk dalam kategori pemimpin yang diinginkan pemilih.

Keempat, mungkin pemilih merasa bosan dan jenuh karena paslon yang maju sama dengan pemilu tahun 2014 meskipun wakilnya beda, yang satu “kyai milenial” dan satunya “santri post-islamisme”. Dinamikanya juga kurang lebih sama seperti pemilu tahun 2014, meskipun di pemilu tahun ini isu agama benar-benar digoreng hingga gosong bolak balik oleh kedua kubu. Melihat kinerja petahana yang ternyata banyak janji yang belum terealisasi apalagi mendapat rapor merah masalah HAM, kemudian melihat paslon lain yang dirasa belum mumpuni memegang tampuk kekuasaan dengan beban masa lalunya. Pemilih merasa butuh calon alternatif sebagai angin segar bagi mereka. Namun ternyata calon alternatif ini tidak ada dalam pemilu tahun ini sehingga wajah yang berkompetisi itu-itu saja. Hingga akhirnya muncullah paslon fiktif bernomor 10 yang mungkin pendukungnya lebih banyak daripada paslon yang asli.

Kelima, bisa jadi sistem pemilu yang diterapkan menjadikan golputers kian berkembang biak di seluruh penjuru nusantara. Indonesia cenderung tidak mewajibkan warga negaranya untuk memilih ke TPS. Yang ada biasanya berupa himbauan dan ajakan untuk memilih di TPS. Ya, hal itu karena memilih merupakan hak dan bukan kewajiban. Karenanya, si golputers ini merasa baik-baik saja sekalipun tidak memilih.

Dilansir dari Tirto, Australia merupakan salah satu negara yang mewajibkan warga negaranya untuk memilih dalam pemilu sehingga golput merupakan sesuatu yang asing disana. Mungkin jika Indonesia menerapkan stick and carrot terkait pemilu, golputers akan berpikir ulang untuk golput.

Beberapa faktor yang saya jelaskan di atas bisa jadi mempengaruhi pemilih untuk golput. Golputers ini bisa jadi cambuk bagi pemerintah bahwa mereka benar-benar perlu untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Selain itu, keberpihakan pada rakyat dan mengutamakan kepentingan rakyat sangat diperlukan untuk mengembalikan trust mereka. Oke, itu terdengar terlalu normatif tapi tidak ada salahnya untuk ditulis.

Baca juga: Antusiasme yang Selalu Dipertanyakan 

Meskipun golput adalah hak yang mana artinya kita boleh untuk golput, perlu diingat bahwa sekalipun kita sangat kecewa dengan tiap paslon, muak dengan berita-berita hoax dan buzzer-buzzer maha benar, bosan dengan wajah dan janji paslon, nantinya akan tetap terpilih salah satu dari dua paslon di pemilu 2019 ini. Kecuali, tiba-tiba ada kelompok politik alternatif yang melakukan kudeta dan mengganti sistem pemerintahan dimana pemilu ditiadakan. Just kidding. But who knows?

Saya sangat menghargai mereka yang memilih untuk golput sebagai bentuk protes. Namun, yang ditakutkan adalah jika mereka tidak menggunakan hak suara, maka besar kemungkinan dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Jadi, jika ingin golput tetap saja datang ke TPS, rusak surat suaranya, celup dalam air, lalu tiriskan.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.