Sumber foto: http://www.provoke-online.com

 Polemik seputar RUU Permusikan kian hangat diperbincangan ketika makin banyak pelaku musik yang turut menyuarakan penolakannya terhadap RUU yang dianggap memiliki banyak pasal karet ini. Naskah akademik RUU Permusikan diserahkan ke DPR pada bulan April 2017. Kemudian pada bulan Maret 2018, diselenggarakan Konferensi Musik Indonesia (KAMI) yang bertempat di Ambon. Konferensi ini menghasilkan 12 butir poin rekomendasi yang “katanya” sedikit banyak menjadi acuan dalam perumusan RUU Permusikan. RUU ini pada bulan Oktober 2018 telah masuk ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) dan menjadi RUU prioritas yang segera disahkan.

Pasal-pasal yang ada dalam RUU Permusikan dianggap membatasi para pelaku musik untuk berkarya dan cenderung bermotif menyelamatkan industri. Padahal jika melirik pada tujuan yang disampaikan Anang, RUU ini bertujuan untuk menyejahterakan musisi. Namun nyatanya, dalam RUU ini secara eksplisit dapat diketahui bahwa banyak pasal yang bukannya menyejahterakan malah jatuhnya merepotkan.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pandangan dan dampak dari RUU Permusikan ini terhadap musisi, penulis Kavling10 Ima Dini Shafira pada 9 Februari 2019 lalu mewawancarai salah satu vokalis dari band asal Malang yang masuk dalam nominasi AMI Awards kategori Duo/Grup Vocal/Kolaborasi R&B terbaik 2018, Coldiac.


Sebelumnya perkenalkan diri dulu

Saya Sambadha dari Coldiac. Nama lengkap Sambadha Wahyadyatmika. Di Coldiac jadi vocal dan gitaris, song writer.

Panggilannya Sambadha?

Sam aja.

Sebelumnya Sam sudah pernah dengar belum draft RUU permusikan?

Denger.

Udah pernah baca?

Pernah baca, tapi sekilas aja sepertinya sudah cukup. Maksudnya cukup mewakilkanlah.

Ini ada beberapa pasal yang bakal aku bacain dan aku minta tanggapannya dari Sam, ada pasal 5 sama pasal 50 yang saling berkesinambungan. Yang pasal 5 itu “Musisi dilarang mendorong khalayak melakukan kekerasan serta melawan hukum, membuat konten porno, memprovokasi pertentangan antar kelompok, menodai agama, membawa pengaruh negatif budaya asing dan merendahkan harkat serta martabat manusia,” kemudian di pasal 50 dijelasin kalau “Mengatur hukuman penjara dan denda bagi yang melanggar pasal 5,” ini ada korelasinya, nah tanggapan Sam bagaimana?

Kurang lebih sama seperti teman-teman yang lainnya, ini itu pasal yang bisa dibilang bakal jadi pasal paling karet di Rancangan Undang-Undang. Karena satu, ini membatasi gerak kita para musisi untuk bikin karya. Padahal, menurut kita seni itu nggak harusnya dibatasin. Kita ingin bebas berekspresi, bahkan ada yang mengekspresikan apa isi kepalanya lewat musik. Jadi saya rasa kalau misalkan ini bisa jadi peluang untuk teman-teman, mungkin yang ada untuk membicarakan soal politik kemudian dibungkam bisa jadikan. Terus untuk teman-teman yang fokus ke isu-isu tertentu nantinya nggak akan seru lagi.

Baca juga:  Bermasalah Sejak Awal, RUU Permusikan Harus Ditolak

Coldiac sendiri ini genrenya lebih ke mana?

Kalo Coldiac sendiri genrenya lebih pop. Pop music.

Kalau lirik-liriknya lebih ke arah mana?

Lebih ke romance, cuma di album pertama kita memang ada beberapa konten yang menjurus ke seksual, tidak terlalu parah.

Menurut saya itu wajar karena kita memang bikin musik bukan untuk anak SMP (di atas 18+, red). Di semua produk kita sudah ada 18+, parental advisory, dan segala macam lainnya. Kalau secara tidak langsung konten-konten yang pornografi atau apapun itu udah ada yang mengatur. Tidak usah diatur disini, Tidak usah diatur di karyanya. Atur aja dari sistem. Maksudnya, Youtube misalnya konten yang memuat seperti sensual agar anak yang di bawah umur tidak bisa akses. Itu saya rasa sudah cukup, mending gitu sih.

Terus ada juga pasal 32 nih, “Untuk diakui sebagai profesi, pelaku musik yang berasal dari jalur pendidikan atau autodidak harus mengikuti uji kompetensi,” nah bagaimana tuh?

Haha, itu kocak aja sih. Kompetensi kayak gimana? Mau diuji kompetensi seperti apa? Musisi profesional emang mengukurnya bagaimana? Anak main di cafe, dibayar itu juga profesional. Kalo dibandingkan dengan yang nasional. Misal Anang, penyanyi seperti itu sama-sama profesional. Jadi kompetensinya dimana nih?

Tapi waktu itu si Anang pernah bilang di video kalo misal RUU ini kan tujuannya mensejahterakan musisi menurut si Anang. Jadi semisal pemain gitar nih, pemain gitar yang baru main sebulan dari otodidak dibandingin sama pemain gitar yang sudah main berpuluh-puluh tahun itu nanti bakal dibedain gajinya. Bagaimana menurut Sam? Bener gak sih kayak gitu? Atau yang namanya musisi ya musisi aja?

Karena kalo ngomongin musik itu macam-macam. Ada orang yang main musik cuma main cafe to cafe, wedding, terus ada yang bikin karya, tidak bisa di satuin. Musisi itu beda-beda konsentrasinya, tujuannya beda-beda. Jadi kalau misalkan kompetensi itu jadi suatu indikator pemain profesional itu sepertinya kurang fair.

Misalkan seperti ini, saya bikin karya mati-matian ya. Terus ada yang cuman main dari cafe ke cafe membawakan lagu orang sama-sama punya strata yang sama. Jadi kayak, gak penting aja itu kompetensi. Ngapain? Lagian juga dia bikin-bikin sendiri. Yaudalah itu udah rahasia umum, semua orang sudah ngomonginkan.

Kalau Coldiac sendiri otodidak atau emang anak les-lesan?

Anak-anak kayaknya otodidak semua deh.

Wah, harus ikut uji kompetensi nih kalo RUU sudah diketok. Terus, ikut Koalisi Nasional yang tolak RUU itu gak?

Tanda tangan. Kita tanda tangan.

PROTEST SONG – Potensi RUU Permusikan Terhadap Protest Song, Infografis/Oky

RUU ini kan tujuannya untuk menyejahterakan musisi. Sebenarnya perlu gak sih dibuat aturan bermusik sedemikian rupa untuk mencapai tujuan itu?

Kita rasa tidak perlu sampe Undang-Undang. Maksudnya kalau menurut saya pribadi ya tidak usah. Belum waktunya untuk sampai ke Undang-Undang. Undang-Undang itu sakral sekali. Kalo terlalu cepat menentukan itu harus dibikin Undang-Undang, ya terlalu premature. Mungkin bisa bikin infrastruktur dulu, sistem, atau apa. Mungkin yang bisa mengarah ke sana.

Terus kalo semisal bukan bentuk Undang-Undang, bentuk seperti apa yang dimaksud tadi? Tadi kan bilang kalo tidak perlu diatur dalam bentuk Undang-Undang karena terlalu sakral. Berarti memang perlu diatur, cuma tidak bentuk Undang-Undang atau bagaimana?

Bukan diatur sih. Kalau mau memajukan musisi itu tidak harus dengan Undang-Undang. Cukup dipermudah aja musisi-musisi Indonesia ini. Karena selama ini kan kita seperti, contoh deh perizinan musik. Coba dimudahin atau gimana, maksudnya lebih ke arah pemerintah bagaimana mendukung musisi-musisi Indonesia ini. Ya sekarang sudah kelihatan, hubungan pemerintah dan musisi. Ini aja udah banyak yang protes berartikan kurang adanya komunikasi. Yang diajak ngobrol siapa? Yang muda mana diajak ngobrol?

Kemarin sih udah ngadain konferensi di Ambon

Iya, saya aja nggak denger tuh. Denger-denger udah ada Rancangan Undang-Undang.

Baca juga:  Musisi Malang Tolak Renovasi Hutan Kota Malabar 

Terus kalo misal RUU ini ternyata jadi diketok, okelah ada beberapa revisi, tapi emang tetep ada nih RUU permusikan. Gambaran dari Sam sendiri melihat permusikan Indonesia ke depannya seperti apa?

Kalau Undang-Undang ini jadi, akan makin banyak generasi penerus yang males.

Males dalam bermusik?

Males mau berkarir di musik. Misalkan, anak SD sampai SMP itu ya udah bikin karya segala macam. Sudah makin di stop aja sama orangtuanya.

Padahal sekarang itu, anak muda jaman sekarang udah mulai memilih karir yang tidak seperti dulu lagi. Yang ingin jadi PNS, ingin jadi –ini, itu. Mereka mengejar mimpinya masing-masing. Mau jadi seniman, mau jadi penyanyi, mau jadi pelukis, mau jadi apa, kita sekarang bebas, tidak ada label. Labeling social itu udah mulai hilang tentang profesi-profesi seni. Nah kalau misalkan ini (RUU, red) jadi nih, tidak ada masa depan buat musik Indonesia. Iya, beneran. Karena akan kembali ke jaman dulu.

Terakhir deh, satu kata tentang musik?

Everything.

Ima Dini Shafira
Editor: Oky Prasetyo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.