Suasana gedung Unit Keaktifan Mahasiswa UB, Foto: Rinto

MALANG-KAV.10 Kongres Mahasiswa yang awalnya akan diadakan pada (18/01) lalu ternyata diundur, hal ini membuat kecewa beberapa mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Brawijaya (UKM UB). Batalnya Kongres Mahasiswa ini tidak ada klarifikasi yang jelas dari pihak penyelenggara dan tidak melibatkan mahasiswa di UKM dalam prosesnya.

Presiden Direktur Mahasiswa Wirausaha Tubagus Syailendra kecewa terhadap keterbukaan informasi penyenggaraan kongres mahasiswa tahun ini, ia mengatakan bahwa informasi pembatalan Kongres Mahasiswa tidak didapatkan melalui grup Lingkar UKM.

“Dari pusat pun belum terlalu terbuka ke UKM. Kaget tiba-tiba batal, harusnya kita dilibatkan dan disini UKM beserta EM dan DPM bisa setara,” ujarnya.

Ia juga menambahkan selain permasalahan pembatalan kongres mahasiswa, permasalahan terkait pendelegasian juga menjadi masalah dalam Kongres Mahasiswa. Untuk masalah delegasi sebenarnya kurang merata, harusnya semuanya ikut.

“Ini kan semua rumpun diharapkan bisa tahu dinamika dalam kongres itu seperti apa,” ujarnya lanjut.

Menanggapi hal tersebut Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Brawijaya (DPM UB) Farhan Azis menyatakan bahwa untuk permasalahan delegasi itu belum ada acuan yang baku terkait pelaksanaan kongres selama ini, dalam artian bahwa kongres sebelumnya belum ada mekanisme yang ditetapkan, yang mengakibatkan kerancuan.

“Kemarin kita sudah bahas kembali untuk pendelegasian, jadi untuk fakultas tidak harus dari DPM, atau tidak salah satu UKM paguyuban, tidak harus UAKI kalo dari paguyuban kerohanian. Tergantung fakultas tersebut atau organisasi tersebut, dengan syarat mencantumkan tanda tangan dari perwakilan,” ujarnya.

Perihal pembatalan kongres mahasiswa ia menyatakan bahwa dalam pembatalan tersebut faktor utamanya adalah ketidakpuasan dari mayoritas peserta kongres. Banyak mayoritas yang meminta untuk melaksanakan kongres ulang karena dirasa untuk pendelegasian fakultas dan UKM belum mencapai kata ideal atau belum memiliki mekanisme yang sudah ditetapkan.

Aziz juga mengungkapkan bahwa Kongres Mahasiswa yang menjadi pembuka kepengurusan baru, dari tahun ke tahun memang pada saaat kongres mahasiswa, pesertanya selalu sedikit. Kendalanya mungkin pada distribusi informasi untuk pendeelgasian peserta kongres.

“Memang kemarin itu informasinya kurang masif. Bahkan kemarin itu tidak memenuhi kuorum kongresnya, dan untuk kongres kedepan DPM akan berkordinasi dengan EM untuk mensosialisasikan bahwa adanya pelaksanaan Kongres Mahasiswa ini”, ujarnya lagi.

Tubagus mengharapkan agar Kongres Mahasiswa menjawab semua permasalahan UKM, bukan hanya formalitas yang diadakan setiap tahun. Karena UKM juga berperan dalam peningkatan sumber daya mahasiswa UB.

Penulis: Silvi Wira dan Rinto Leonardo S
Editor: Oky Prasetyo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.