MENGEPAL-Massa aksi Aliansi Brawijaya Menggugat Jilid II yang digelar di halaman Gedung Rektorat UB (2/5). Foto: Dokumentasi Kavling10

MALANG-KAV.10 Bertepatan dengan peringatan 90 tahun Sumpah Pemuda bulan Oktober lalu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) memberikan ‘kado’ Peraturan Menristekdikti (Permenristekdikti) Nomor 55 Tahun 2018 tentang Pembinaan Ideologi Bangsa dalam Kegiatan Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi. Aturan ini disebut sebagai upaya menekan paham radikalisme dan intoleran di dalam kampus.

“Pada pasal 1 dijelaskan, perguruan tinggi bertanggung jawab melakukan pembinaan ideologi bangsa, yang mengacu pada empat pilar kebangsaan yaitu UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, bagi mahasiswa dalam kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler,” papar Menristekdikti Mohamad Nasir di Kantor Kemenristekdikti di Jakarta (29/10), dikutip dari ristekdikti.go.id.

Ketika ditemui pada Kamis (8/11) lalu, Wakil Rektor III Kemahasiswaan Arief Prajitno mengatakan bahwa dirinya belum membaca secara rinci peraturan tersebut. Menurutnya penerbitan Permenristekdikti 55/2018 terlalu terburu-buru. Ia menyebut Forum Wakil Rektor III seluruh Indonesia sedang merancang konsep aturan tentang kemahasiswaan.

“Jadi draf itu sedang disiapkan, artinya disempurnakan model pembinaan di kemahasiswaan untuk mengatur itu tadi, ekstra kampus dan internal kampus. Tetapi peraturan yang keluar itu beda. Itu yang kita kaget. Peraturan yang diterbitkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Apalagi di dalam peraturan tersebut mewajibkan tiap-tiap kampus untuk membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pengawal Ideologi Bangsa (PIB),” jelasnya.

Menurut Arief, hingga saat ini belum ada petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis kepada kampus terkait pembentukan UKM baru. Sehingga dalam bulan ini, Kemenristekdikti akan mengumpulkan seluruh Wakil Rektor III untuk membahas kembali Permenristekdikti 55/2018.

Selasa (13/11) lalu, di kesempatan berbeda Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UB Alfian Tanjung secara pribadi justru menganggap gagasan Menristekdikti terkait pembentukan UKM PIB adalah sesuatu yang diperlukan. Menurutnya upaya menangkal radikalisme hingga saat ini belum maksimal.

“Yang aku lihat tidak ada organisasi intra yang benar-benar bisa men-deliver nilai-nilai yang ada di Pancasila. Nah, ketika nanti ada UKM yang tugasnya men-deliver nilai Pancasila, harapan itu muncul. UKM itu bisa menjadi garda terdepan untuk menangkal radikalisme,” tuturnya.

Membuka Pintu Keterlibatan OMEK

Aturan ini otomatis menganulir larangan keterlibatan omek di dalam kampus, yang tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nomor 26/DIKTI/KEP/2002. Permenristekdikti 55/2018 bertendensi membuka pintu keterlibatan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) atau organ ekstra kampus (omek) seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan lainnya untuk bisa beraktivitas kembali di internal kampus dalam wadah UKM PIB.

Bagi Alfian, Permenristekdikti 55/2018 akan semakin menguatkan gerakan mahasiswa agar berorientasi pada politik nilai karena selama ini gerakan-gerakan mahasiswa yang ada di UB berorientasi pada politik kekuasaan, seperti menguasai internal kampus.

“Jadi ini adalah momentum agar romantisme pergerakan mahasiswa itu kembali membumbui teman-teman yang ada di kampus. Karena sekarang yang dibawa adalah gerakan-gerakan politik kekuasaan, sehingga hal itu (Permenristekdikti 55/2018, red) bisa menegaskan fungsi gerakan mahasiswa,” katanya.

Terkait instruksi pembentukan UKM PIB, Arief belum berani bersikap. “Kalau kita melihat dari turunnya Permen 55 itu, nanti ribet. Bayangkan kalau nanti omek-omek itu masuk kampus, minta sekretariat seperti UKM, minta anggaran. Nah ini yang belum terpikirkan. Kita belum berani ber-statement, UB harus bagaimana, kita belum berani. Pak Rektor juga belum berani,” tuturnya. (ara/dik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.