Para pemenang helatan Olimpiade Brawijaya dalam Closing Ceremony di GOR Pertamina UB, (14/11) kemarin.

MALANG-KAV.10 Olimpiade Brawijaya (OB) yang dihelat pada tahun ini tidak serta merta tanpa pro-kontra. Satu bulan sebelum OB resmi dimulai pada akhir Oktober (25/10) lalu, wacana mengenai penghapusan beberapa cabang lomba mulai mengemuka. Wacana tersebut kian santer dibicarakan lantaran dua cabang lomba yang memiliki atmosfer paling besar, yakni futsal dan bola basket terpaksa harus dihilangkan.

Ketika ditemui pada Closing Ceremony OB (14/11), Co Supporter Fapet Ilham Zulfikri mengatakan kekecewaan terhadap dihilangkannya kedua cabang lomba futsal dan basket. Menurutnya euforia dari supporter berada di kedua cabang lomba tersebut.

“Karena kan euforia terbesar ada di kedua cabang lomba itu (futsal dan basket, red) yang pasti gak bisa kreatif lagi gitu. Megahan tahun lalu, karena alasan dihilangkan kedua cabor itu. Pastinya harapannya kalau dari pandangan supporter harus lebih megah daripada OB tahun ini,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Pelaksana OB Raditya Wisnu Andana tidak bisa menjelaskan alasannya secara gamblang terkait dihilangkannya kedua cabang lomba tersebut yang pasti sangat dibutuhkan koordinasi.

“Tetapi, memang penentuan perlombaan yang akan kita (panitia, red) lakukan memerlukan koordinasi antara panitia pelaksana dan birokrasi. Sehingga apa yang dilaksanakan oleh panitia pelaksana adalah amanah dari birokrasi,” tambahnya.

Ia juga menyatakan selain dua cabang lomba tersebut, ada empat cabang lomba lain yang juga dihapuskan pada tahun ini. Di antaranya, Debat Bahasa Indonesia, Debat Bahasa Inggris, Stand Up Comedy, dan Monolog. Keikutsertaan dan partisipasi diduga menjadi faktor yang dipertimbangkan dalam peniadaan cabang lomba tertentu.

“Cabang-cabang lomba yang ditiadakan pada tahun ini masih memiliki kemungkinan untuk bisa diselenggarakan kembali di tahun depan. Saya yakin panitia OB 2019 nanti akan mengusahakan. Karena setiap tahunnya kondisi dari mahasiswa UB sendiri berbeda, jadi tidak menutup kemungkinan,” harapnya perihal cabang perlombaan yang dihilangkan.

Faktor keamanan atau kondusifitas suasana diduga juga menjadi alasan. Namun Ketua Kontingen FEB Pandu Putra Alam menganggap kondusifitas yang tercipta di OB tahun lalu dan tahun ini tetap sama. Dengan kata lain, penghapusan tersebut sebenarnya tidak memiliki dampak siginifikan dalam mengkondusifkan suasana.

“Tahun ini tidak ada bentrokan, di tahun lalu pun tidak ada. Jadi mau saya tekankan lagi, mau di tahun ini atau di tahun lalu, ada atau tidaknya futsal itu tidak membuat terjadinya bentrokan,” akunya.

Meski begitu, ia tetap berharap atlit maupun suporter fakultas lain bisa berkontribusi atau berpartisipasi dengan nuansa yang kondusif. Sekaligus ditahun depan OB bisa berjalan dengan kondisi ideal dengan semua cabang lomba dan mendapat perizinan dari Rektorat, mengingat di tahun ini ada pembatasan cabang lomba.

Tahun ini, OB menyelenggarakan 26 cabang lomba dengan kategori 14 cabang lomba olahraga dan 12 cabang lomba seni. Rangkaian acara OB yang berlangsung selama kurang lebih dua minggu resmi berakhir pada Rabu (14/11). Closing Ceremony di GOR Pertamina UB menjadi ajang apresiasi kepada 17 fakultas terutama kepada tiga juara besar fakultas pemenang OB tahun ini. FEB keluar sebagai Juara Umum OB 2018 dengan perolehan 12 emas, 3 perak, dan 3 perunggu, disusul oleh FIA dan FISIP yang masing-masing menempati posisi 2 dan 3. Apresiasi juga diberikan kepada best supporter yang diperoleh Fapet. Di tahun ini, OB menyelenggarakan 26 cabang lomba dengan kategori 14 cabang lomba olahraga dan 12 cabang lomba seni. (ara/atw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.