Kontingen UB disambut oleh rektorat setelah berjuang di PIMNAS 31. Foto: Arsyika

MALANG-KAV.10 Gelaran PIMNAS 31 memang telah usai. Namun, bukan berarti tidak ada cerita yang mengendap di hati para peserta, khususnya Kontingen PIMNAS UB. Dari dua kategori yang dilombakan (Presentasi dan Poster), UB hanya mampu mengantongi empat emas. Perolehan itu memaksa UB harus puas berada di peringkat dua. Jumlah tersebut terpaut cukup jauh dengan UGM yang mampu menggondol total sepuluh emas, sekaligus menasbihkan UGM sebagai Juara Umum PIMNAS 31.

Dalam rangka mempertahankan gelar juara, Kontingen UB melakukan persiapan sejak awal Agustus. Dimulai dari sosialisasi persiapan PIMNAS oleh rektorat, serta doa bersama dengan anak yatim piatu. Selain itu, rektorat juga memberikan karantina kepada Kontingen UB selama tiga hari di Hotel Savana dari hari Sabtu (18/08). Di sana para peserta diberi materi mengenai presentasi yang baik dan revisi poster.

Kontingen UB menghabiskan waktu selama kurang lebih tiga minggu untuk persiapan secara intensif. Pasca persiapan di Malang, para peserta berangkat menuju Yogyakarta satu minggu sebelum PIMNAS 31 dimulai.

Dua peserta PIMNAS 31 dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Arsyika Oktaviani dan Firda Pramesti menjelaskan persiapan itu sebagai upaya untuk mencapai target yang ditetapkan oleh rektorat. Mereka dan dua anggota tim lainnya merupakan peraih emas untuk UB pada kelas PKM-T 1 kategori Presentasi.

Firda menjelaskan bahwa setiap tim tidak ditargetkan secara khusus untuk meraih emas, “Kalau tim mana saja yang harus dapat emas, otomatis semuanya dari UB pengen dapat emas. Kalau bisa semuanya, kenapa tidak?”. Arsyika lantas menimpali, “Tapi ya, target utamanya kan quattrick (empat kali berturut-turut, red) juara umum di PIMNAS”.

Meski ditargetkan menjadi Juara Umum, Arsyika menyayangkan waktunya yang kurang panjang di masa persiapan. “Hanya saja, waktunya itu kan sedikit (tiga minggu, red). Sehingga waktu revisinya itu singkat dan hanya bisa beberapa kali revisi saja,” jelas Arsyika.

Tetapi keterbatasan itu ternyata tidak mempengaruhi penampilan timnya di sana. Tim UB lainnya juga tampil bagus dan maksimal selama presentasi. “Dari segi penampilan, seni power pointnya, lalu persiapan timnya, itu jelas-jelas dari UB sendiri sudah sangat siap bila dibandingkan dengan tim lain. Apalagi menurut saya, penyampaian intonasinya sudah bagus banget sih,” ungkap Firda semangat.

Keluh Kesah Peserta

Tawa kecil mengawali jawaban Arsyika dan Firda ketika ditanya mengenai kegagalan tim-tim UB menyabet emas di setiap kelas. Arsyika memulainya dengan memberikan pandangan pribadi dirinya bahwa setiap kali tim dari UGM meraih emas, maka tim dari UB mendapatkan perak. Menurutnya, bisa jadi juri mempunyai tujuan lain untuk tidak menjadikan UB juara di tahun ini agar PIMNAS tetap kompetitif di tahun depan.

“Menurut saya, andaikan UB mendapat juara umum lagi, tahun selanjutnya akan memengaruhi universitas lain untuk mendaftar. Jadi istilahnya, ‘wes lah gak usah daftar, nanti ujung-ujungnya juga UB’. Soalnya kan UB menang empat kali berturut-turut,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Firda juga merasa ada penilaian yang tidak berimbang oleh juri. Pernyataan ini disepakati pula oleh Arsyika sebagai rekan satu timnya. Juri terkesan memberikan bobot pertanyaan yang sedikit berbeda khusus untuk tim UB. Berbeda dengan tim dari universitas lain yang pertanyaannya terkesan umum dan bisa diprediksi.

Ada sedikit perasaan kecewa ketika Arsyika menerangkan kepada kami mengenai hal ini, “Setiap kali tim dari UB itu maju, pertanyaannya beda. Memang sih itu harus ditanyakan, tapi beda dengan tim-tim sebelumnya yang tampil. Padahal tim sebelumnya pertanyaannya ya itu-itu saja. Bahasanya diganti tapi intinya sama”.

Secara terpisah, peserta PIMNAS 31 dari Fakultas Teknik (FT), Albin Adyaksa Sabil juga menuturkan hal serupa. Dirinya merasa penilaian juri sedikit tidak berimbang kepada tim UB. Alhasil, upaya timnya untuk “menjual” produk dan ide tidak tersampaikan secara sempurna.

Albin yang juga menjadi Ketua Kontingen PIMNAS 31 UB ini menjelaskan, “Jadi kita itu diberikan pertanyaan yang tidak harus ditanyakan. Sehingga keinginan kita untuk menjual produk kita menjadi agak susah, Soalnya pertanyaan yang harusnya ditanyakan itu tidak ditanyakan. Beberapa tim lain juga merasakan hal yang sama”.

“Namun, di luar dari hal itu, kita tidak boleh mengambil itu jadi alasan bahwa juri menjadi penyebab utama tidak juara,” sambung Albin.

Selain dua alasan di atas, baik itu Arsyika, Firda, dan Albin sama sekali tidak merasakan ada alasan atau faktor lain atas kegagalan UB merengkuh Juara Umum PIMNAS. Bahkan disertai dengan nada canda, Arsyika dan Firda menilai penampilan tim UB kemarin sudah sangat maksimal, sampai-sampai kekurangan tim UB saja tidak terlihat.

Mengejar Kembali Prestasi

Hasil yang diraih saat ini bisa menjadi pelajaran bagi UB agar di tahun depan bisa merebut kembali Piala Bergilir yang saat ini berada di UGM. Merespon hal ini, Arsyika dan Firda menyarankan UB tidak kalah start saat persiapan agar bisa lebih baik lagi di PIMNAS 32.

Menurut Firda, “Persiapannya harus start lebih dulu, jangan sampai kalah start lagi. Dengar-dengar di tahun ini UB kalah start dari UGM dari segi persiapan. Kemudian persiapannya juga harus digenjot lagi”.

Bercermin dari kegagalan Kontingen UB untuk kembali membawa pulang predikat Juara Umum PIMNAS ke tanah Brawijaya, Arsyika dan Firda menyatakan hal itu sebagai kemenangan yang tertunda. Baik itu Arsyika, Firda, dan Albin sama-sama menilai bahwa peluang UB untuk bisa menjadi juara lagi pada PIMNAS 32 masih terbuka lebar. (ara/sad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.