MALANG-KAV.10 Sejak pukul 04.30 WIB (14/08), sebanyak 16 mahasiswa disabilitas berkumpul di Gerbang Utama Veteran untuk kemudian dimobilisasi oleh panitia menggunakan mobil. Mereka bersama para pendamping dari Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) menuju Gedung Widyaloka sembari menunggu upacara pembukaan.

Menurut pendamping dari PSLD Aisyah Sekar ada lebih dari 20 mahasiswa disabilitas yang diterima di Universitas Brawijaya tahun ini. Namun, tidak semua mahasiswa disabilitas berada dalam kelompok tersebut.

“Jadi di klaster 18 ini, ada sekitar 16 orang mahasiswa disabilitas, yang lainnya tersebar di klaster lain. Jadi yang dipisah di sini (kelompok,red) itu, mereka yang butuh bantuan lebih,” jelasnya.

Aisyah menjelaskan bahwa mahasiswa yang butuh bantuan lebih itu seperti, tunawicara, tunadaksa, tuli, mental, low-vision, serta gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas yang disebut ADHD. Ia sendiri mendampingi seorang mahasiswa ADHD, yang butuh bantuan untuk mendengar suara yang terlalu keras.

Koordinator Acara RAJA Brawijaya 2018 Andri Hardinata membenarkan hal tersebut. Mahasiswa disabilitas memang dikhususkan menempati klaster 18, namun ditempatkan di bagian belakang barisan.

Meski mendapat penempatan khusus, mahasiswa disabilitas tetap diperlakukan sama seperti  mahasiswa lainnya. Andri menuturkan bahwa panitia hanya menyediakan fasilitas seperti  pemisahan tempat duduk mahasiswa disabilitas yang berada di Tribun Samantha Krida.

“Mereka tidak diperlakukan berbeda, hanya diberikan fasilitas. Karena teman-teman dari PSLD juga mau teman-teman disabilitas ini tidak terlalu ‘diagungkan’,” ungkap Andri.

Sepanjang rangkaian acara RAJA Brawijaya 2018, mahasiswa disabilitas terlihat antusias dan bisa mengikuti rangkaian acara. Para pendamping menjadi penerjemah bahasa bagi mahasiswa disabilitas selama kegiatan berlangsung. (ara/sad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.