(Ilustrasi: Oka)

“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merin h kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman se-ideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk di tipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.”

-Soe Hok Gie

Sekali lagi selamat kepada mahasiswa baru yang sudah bertahan untuk berlarian diantara teriakan. Serta yang berhasil menatap atau menggelengkan kepala kepada wajah seniornya. Kebanyakan dari mahasiswa baru masih terlena dengan sibuknya penugasan, meriahnya acara saling berkenalan atau mungkin masih sibuk mengenang setiap jengkal materi yang diberikan. Sayang sekali tidak banyak yang sibuk mencari jalan bagaimana menguatkan mental untuk mendongakkan wajah dan mulai menggelengkan kepala pada orang-orang yang terlebih dahulu merasakan teriakan ketika berlari.

Senioritas bukan hal baru dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia, terlebih tidak hanya satu kali publik gempar dengan korban yang berjatuhan akibat senioritas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia senioritas bermakna keadaan yang lebih tinggi dalam pangkat, pengalaman, usia. Seiring dengan perkembangan tatanan sosial, makna senioritas selalu dihubungkan dengan citra negatif. Akibat kerap kali bermunculan pada media, membuat senioritas menjadi topik yang mungkin menjadi alasan banyak orang tua waswas melepas putra-putrinya ke lingkungan kampus, lingkungan yang seharusnya tidak lagi tentang siapa yang paling tua dialah yang berkuasa.

Namun sepertinya senioritas sudah menjadi tradisi yang dijaga turun-temurun keberadaannya. Dalih ingin memberikan “jalan yang lurus” kepada adik tingkat nyatanya tidak sepenuhnya asli. Keinginan menjadi pelaku, merupakan salah satu alasan yang paling banyak digunakan untuk bernostalgia ketika masih menjadi korban atas senioritas. Hal itu yang berlangsung hingga hari ini, walaupun sudah sedikit berkembang tentang cara senior untuk “mendidik” juniornya. Mulai dari senioritas yang hanya menggunakan kekerasan fisik sampai menggunakan kekerasan verbal.

Pertanyaan berikut mungkin klise, namun situasi menuntut hal ini dipertanyakan lagi: Seberapa efektif cara-cara itu mampu mengajarkan mahasiswa baru kedisiplinan? Bagi mahasiswa baru, tantangan dalam menjejaki babak baru tidak hanya soal adaptasi dengan tempat dan orang yang baru juga tentang menjadi sasaran empuk dari senioritas yang punya kekuasaan lebih atas jabatan dan usia serta pengalaman yang lebih banyak. Padahal kesetaraan yang telah diperjuangkan sebagai bentuk pengakuan dan memanusiakan manusia selama ini, bukan lantas tiba-tiba dihilangkan dalam beberapa hari. Mengenyam bangku kuliah terlebih dahulu hanya membuat senior mengenal lebih dulu dinamika kampus dan segala polemiknya bukan lantas bisa menjadikan seseorang dapat menindas manusia lain.

Sudah perlu rupanya menatap lurus tanpa harus menunduk dengan orang-orang yang tidak benar-benar mendidik. Atau sudah perlu mencari jalan yang lebih menghargai orang lain untuk sekadar mendidik dan memperkenalkan lingkungan baru. Pengenalan kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKK Maba) seharusnya akan membawa maba mengenali satu langkah lebih jauh polemik yang terjadi di Universitas Brawijaya (UB). Mulai dari peraturan ospek yang sedikit banyak membatasi kegiatan maba, keganjilan uang pengulangan PKK maba bagi mahasiswa lama (mala) atau tentang fasilitas pendidikan yang mangkrak. Atau bahkan persoalan panjang yang terus menjadi tuntutan pada aksi 2 Mei.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.