(Ilustrasi: Oka)

Salam dan selamat bagi mahasiswa baru, telah bergabung menjadi bagian keluarga civitas akademika Universitas Brawijaya. Selamat juga bagi rektor baru, Prof. Dr. Nuhfil Hanani yang belum genap sebulan lalu dilantik untuk memimpin kampus biru-kampus perjuangan UB hingga tahun 2022 nanti.

Tuntutan-tuntutan mahasiswa pada aksi 2 Mei lalu semoga tidak hanya menjadi suara yang hempas dan berlalu disapu angin. Terutama soal penolakan status badan hukum (Perguruan Tinggi Berbadan Hukum/PTN-BH) yang belum juga kelar dikaji. Bagi yang masih setia berdiri di pihak penolak kebijakan ini tentu ketar-ketir.

Naiknya isu radikalisme-terorisme di kampus terutama setelah Mei lalu BNPT menyebut UB sebagai salah satu kampus terpapar radikalisme juga semoga tidak melahirkan serangan panik. Penanganan yang tepat dan hati-hati perlu dicari bersama. Salah-salah malah tumbuh tanpa pada lembaga dakwah kampus, diskusi dalam ranah mimbar akademik asal ditebas-direpresi.

Bagi mahasiswa baru, euforia atas label diri yang baru ini semoga tidak lantas menggiring terlampau larut dan gagal mengilhami peran yang semestinya segera kita jalankan sebagai mahasiswa. Peran yang mana?

Ada yang bilang sudah bukan zamannya lagi peran mahasiswa sebagai agen perubahan disalurkan lewat demo: membau aspal, menyeru dengan tangan terkepal. Aktivisme kaum milenial disebut lebih arif menjemput perubahan dengan menyibukkan diri ikut Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), membangun start-up, membuat inovasi dan penemuan.

Di sisi lain mahasiswa juga dituntut untuk tetap bergerak dan berorganisasi. Berkutat dengan buku melulu tanpa pernah bersentuhan dengan lingkungan dan masyarakat tidak mengantar kemana-mana. Kita sibuk merenung di atas menara gading, membendung alir ilmu yang harusnya diamalkan lewat tindakan demi melahirkan manfaat buat masyarakat.

Tentu dua pandangan ini tidak final, barangkali banyak varian persepsi lain soal bagaimana peran sebagai mahasiswa mesti ditunaikan, dan masing-masing sah menjadi jawaban. Atau justru banyak dari kita sebenarnya mampu menengahi kedua opsi itu: menjadi mahasiswa prestatif sekaligus membagi dampak nyata bagi masyarakat.

Dengan tulisan ini, turut kami perkenalkan media kami Buletin Jurnal PKK Maba (Jurnal Ospek) yang selama tiga hari ke depan akan mengawal isu dan peristiwa seputar rangkaian ospek. Meski cukup absurd menjadikan tokoh fiktif sebagai penutup, namun optimisme dan determinasi Naruto dalam mengarungi misi hidupnya cukup pantas menjadi pesan teladan. Apapun pilihan peran yang kalian jalani nantinya, pastikan menjalani dengan sepenuh hati dan mantap menyeru: Inilah jalan ninja-ku!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.