(Ilustrasi: Oka)

Oleh: Aprilia Tri W.*

Ada yang menarik ketika saya menjadi mahasiswa Brawijaya. Kegiatan perkuliahan, organisasi hingga politik kampus dan segala kebijakannya selalu menimbulkan pro dan kontra. Beberapa masalah di kampus dan bangsa ini, saya selalu menemui mahasiswa yang turun aksi alias demo entah dipinggir jalan atau didepan gedung-gedung pejabat.

Saya menjumpai banyak mahasiswa yang ikut larut dalam aksi-aksi yang katanya “demi sebuah perubahan”. Kemudian yang menjadi pertanyaan bagi saya, merujuk pada peran mahasiswa sebagai agent of change, benarkah kami sebagai mahasiswa adalah agen perubahan bangsa yang melakukan aksi dengan berdemo?

Saya heran, aksi-aksi seperti ini selalu dibingkai dengan suasana meriah dan mahasiswa yang bergelora menyuarakan gugatan. Saya ambil contoh ketika aksi di depan Gedung Rektor untuk memperingati pendidikan yang selama dua tahun ini selalu diwarnai dengan aksi longmarch, gugatan, nyanyian dan drum penyemangat. Seolah aksi menjadi sesuatu yang menyenangkan, meriah dan menarik perhatian.

Saya hanya menyayangkan perilaku mahasiswa yang berdemo dengan aksi-aksi kekerasan atau mengganggu ketertiban umum. Misalnya, saya ambil contoh yang lebih luas mengenai aksi demo tuntutan tiga tahun Jokowi-JK yang berlangsung pertengahan Oktober tahun lalu. Mahasiswa seluruh Indonesia melakukan aksi di tengah jalan, beberapa diantara mereka menuntut nawacita yang dijanjikan Jokowi. Namun, anehnya para mahasiswa yang melakukan aksi justru mengganggu pengguna jalan dan menyebabkan kemacetan.

Mengutip salah satu berita CNN Indonesia “Demo 3 Tahun Jokowi-JK, Mahasiswa Upacara di Tengah Jalan” mengatakan bahwa para pendemo yang terdiri dari beberapa Mahasiswa Indonesia melakukan aksi upacara yang menyebabkan kemacetan, itu membuat sejumlah pengendara kendaraan roda empat dan dua hilang kesabaran. Akibatnya banyak pengendara yang membunyikan klakson beramai-ramai meminta para pendemo agar tidak melakukan aksinya di tengah jalan. Kita selalu menuntut kemacetan yang terjadi namun, karena sedang berdemo kita sendirilah yang menyebabkan kemacetan lain sedang terjadi.

Hal ini menunjukkan bahwa kita selalu sibuk mengomentari pemerintah dan pejabat tinggi dengan segala kebijakan yang mereka buat tetapi, justru kita sendirilah yang membuat carut-marut keadaan dengan melanggar ketertiban umum.

Dalam wawancara dengan Geolive.id, Budiman Sudjatmiko seorang mantan aktivis, mengatakan masalah kritisisme hanyalah membicarakan suatu masalah. Tetapi, sekarang bagaimana solusi itu menjadi sangat penting. Sebelum kemerdekaan masyarakat dan mahasiswa mengusir penjajah dengan bambu runcing. Zaman setelah kemerdekaan mahasiswa hanya cukup dengan berdemo tidak dengan perang saat menggulingkan orde baru. Jika sekarang segala persoalan dapat diselesaikan dengan teknologi atau penemuan-penemuan baru, kenapa harus memaksakan diri untuk tampak berkeringat?

Pesan Budiman yang sangat menarik bagi saya adalah demikian “Jadi kalau dituntut pada generasi sekarang bukan soal apa yang dilakukan namun, hasil apa yang sudah diberikan.” Sejenak menjadi sebuah perenungan bagi saya, sudahkah saya dan diantara kalian memberikan hasil terhadap perubahan Brawijaya dan bangsa ini.

Saya setuju pada apa yang dikatakan oleh Budiman. Apakah dengan demo dan berkeringat itu tampak terlihat keren? Saya menyoroti sosoknya yang dulu seorang aktivis ‘98 yang saat itu ramainya aksi dan konfrontasi mahasiswa. Dia menantang hegemoni orde baru dan mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Justru sosoknya saat ini tidak setuju terhadap mahasiswa yang suka melakukan demo karena dirasa kurang efektif. Jika menurutnya, generasi milenial bisa membuat perubahan lewat teknologi atau suatu karya karena zaman sudah berubah dibandingkan dengan berdemo hingga mengganggu lingkungan sekitar.

Zaman semakin maju dan teknologi semakin canggih kita bisa memanfaatkan semua itu hari ini. Jangan samakan dengan masa sebelum dan sesudah kemerdekaan yang saat itu pendidikan dan teknologi belum terlalu berkembang. Seharusnya kita sebagai mahasiswa bisa menunjukkan dan memanfaat zaman dengan bijak dan baik.

Daripada berdemo, sibuk aksi sana-sini yang berujung pada kericuhan hingga aksi bakar ban, mengganggu lalu lintas dan buang sampah sembarang. Akankah lebih baiknya kita sebagai mahasiswa benar-benar menerapkan perubahan untuk diri kita dan masyarakat. Hal itu dapat ditunjukkan lewat karya dengan menciptakan sebuah teknologi atau penyelesaian masalah misalnya dengan menulis dan merubah tindakan orang lain melalui pola pikir.

Mahasiswa berkeringat melalui karya bukan berteriak-teriak dengan mengganggu orang lain. Ada banyak cara yang bisa dilakukan jika keilmuan kita tidak bisa menciptakan teknologi. Banyak program-program pengabdian dikampus dan diluar kampus saat ini yang bisa diikuti. Banyak media dan situs-situs blog yang mau menerima tulisan untuk diterbitkan. Seperti kata pepatah “banyak jalan menuju roma” begitu banyak pula jalan yang bisa dilakukan untuk perubahan kampus dan negara.

*Mahasiswa Antropologi, awak Kavling10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.