MEMBARA-Salah satu kelompok massa aksi berjajar rapi dalam barisan sambil menenteng papan berisi propaganda serta membawa bendera identitas organisasi masing-masing dalam peringatan Hari Buruh Internasional di Balai Kota Malang hari ini (1/5). Foto: Fahmi

MALANG-KAV.10 Perjuangan kaum buruh untuk menuntut kesejahteraan tidak pernah berhenti, khususnya pada peringatan Hari Buruh Internasional atau yang biasa disebut dengan Mayday. Tiga kelompok aliansi hadir untuk melakukan aksi di sekitar Balai Kota Malang. Ketiga kelompok tersebut yakni Aliansi Perjuangan Rakyat Malang (APR), Aliansi Rakyat Malang (ARM) dan Aliansi Rakyat Malang Bersatu (ARMB), serta Front Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), yang berkumpul hari ini (1/5). Walau sama-sama memperingati Mayday, setiap aliansi mengaku hadir untuk menyuarakan tuntutan masing-masing.

Koordinator Aksi ARM Putut Prabowo menyebutkan sejumlah 29 organisasi tergabung dalam aliansi ARM. Ia memandang Mayday sebagai momentum untuk menyuarakan aspirasi dan hak-hak menyampaikan pendapat di ruang publik. Sehingga terpecahnya aksi masing-masing aliansi merupakan konsekuensi dari ruang demokrasi.

“Kami menyadari bahwa konsekuensi dari sebuah ruang demokrasi adalah hak untuk kemudian pendapat, hak kemudian untuk memiliki pendapat, dan juga menyuarakannya. Nah, untuk itu kami akan berupaya untuk menjangkau teman-teman organisasi lain yang mungkin belum berada di dalam barisan,” ujar pria yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) tersebut.

Sedangkan aliansi yang tergabung dalam FPBI menyoroti kasus buruh yang terjadi pada lingkup Malang. Koordinator Aksi dari FPBI, Andreas Jose melihat tidak ada perbedaan secara substansi dari ketiga aksi yang berlangsung. Ada tiga hal yang menurutnya akan tetap disuarakan oleh seluruh aliansi.

“Pastinya sih tentang suara ketidakadilan ya, pastinya kan. Karena hampir semuanya pasti sama menolak tenaga kerja asing. Itu pasti semua buruh tetap menolak. Outsourcing juga, buruh kontrak itu pasti semua serikat tetap menolak. Yang ketiga itu juga pelayanan BPJS,” ujar anggota Forum Mahasiswa Hukum Peduli Keadilan (FORMAH PK) angkatan 2017 tersebut.

ARMB menghimpun massa aksi dari organisasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, sementara Aliansi Perjuangan Rakyat Malang menaungi 13 lembaga yang didominasi mahasiswa UB. Mereka mengajukan tuntutan dan mendatangi kantor Walikota Malang untuk melakukan negosiasi dan menyuarakan aspirasi mereka. Diantaranya untuk mencabut sistem kontrak kerja outsourcing, perlindungan tenaga kerja Indonesia, dan pendidikan serta kesehatan gratis bagi keluarga buruh. (sad/nur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.