Pegiat Konservasi Alam Ajak Warga Malang Melek Ekowisata

0
1
Pemateri dalam diskusi mengenai Konservasi Malang Selatan yang berlangsung di Auditorium Nuswantara FISIP UB pada Selasa (15/5). Foto: Debbie

MALANG-KAV.10 “Tapi kenapa orang Malang sendiri larinya keluar kota? Kalau enggak kumpulnya di kota. Jarang sekali yang masuk pelosok-pelosok ke tempat kita. Alasannya jalannya rusak, enggak ada listrik, banyak nyamuknya, enggak ada sinyal, makan susah, dan lain-lain. Akhirnya kita kecolongan begitu banyak,” ujar pendiri komunitas Sahabat Alam Andik Syaifuddin pada talkshow yang membahas tentang konservasi laut dan ekowisata di Malang Selatan. Diskusi ini digelar oleh Kondang Merak Performance Research Team di Auditorium Nuswantara FISIP UB, Selasa kemarin (15/5).

Andik memaparkan ancaman yang terhadap keberlangsungan hidup biota darat dan laut semakin meningkat. “Kalau hutan kita ancamannya berburu satu orang, dua orang, lima orang, tujuh orang sudah biasa. Sekarang 20 orang pakai truk berburu sudah community, komunitas. Potas di laut satu orang, dua orang sudah biasa 16 orang pake pick up. Potas satu kilo dua kilo sudah biasa, satu drum ini potasnya,” terangnya.

Menurutnya pula ada beberapa faktor pendorong masyarakat melakukan perusakan hutan dan laut. “Kalo yang kami lihat kenapa mereka selama ini merusak, itu karena ada tiga faktor yang pertama itu faktor perut, faktor murni bisnis, dan faktor kesenangan. Ini yang mendasari mereka makanya ini berusaha kita urai semua,” jelasnya.

Selaras dengan pernyataan tersebut, Ketua East Java Ecotourism Forum (EJEF) Agus Wiyono menambahkan bahwa masih kurangnya edukasi tentang ekowisata menyebabkan masyarakat yang salah memahami ekowisata.

“Sangat disayangkan edukasi terhadap ekowisata itu sangat lemah, saluran informasi apa itu ekowisata masih kurang. Hanya sedikit pihak yang menginfokan itu, bicara televisi atau media manapun sangat sedikit campaign tentang ekowisata. Sehingga orang tidak tahu bedanya antara mass tourism (wisata masal,red) dengan ekowisata,” kata Agus.

Agus menawarkan alternatif solusi untuk mengembangkan pariwisata berbasis ekowisata. “Bahan lokal yang diolah menjadi modern, harus berkembang. Pendampingan pengolahan bahan bahan lokal yang tidak kalah menarik dengan bahan modern. Ekowisata berbasis masyarakat. Misal homestay yang tuan rumahnya menyempatkan waktu berinteraksi dengan tamu serumah,” ujarnya. (lia/sad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.