Pemateri dalam diskusi mengenai Konservasi Malang Selatan yang berlangsung di Auditorium Nuswantara FISIP UB pada Selasa (15/5). Foto: Debbie

MALANG-KAV.10 Usaha menjadikan daerah Malang Selatan sebagai tempat pariwisata dapat mengancam kondisi alam di daerah. Hal tersebut memprihatinkan karena Malang Raya identik dengan potensi sumber daya manusia yang banyak melahirkan pemerhati lingkungan yang seharusnya dapat mendukung pembangunan pariwisata berbasis lingkungan.

Pendiri Sahabat Alam Indonesia Andik Syaifuddin mengatakan upaya konservasi telah dilakukan terhadap daerah hutan lindung yang berada di pesisir. Namun berbagai ancaman yang dihadapi daerah sekitar kawasan konservasi tidak bisa terselesaikan.

“Kita di Malang Selatan itu ada tambang pasir besi. Di Malang Selatan kita kecolongan kebun sawit. Terus, cagar alam Pulau Sempu selalu digoyang untuk diturunkan statusnya, Terus kita punya hutan lindung yang tersisa Malang Selatan luasnya hanya 1.989 hektar, meliputi enam desa dalam dua kecamatan dan ini adalah hutan pesisir,” papar Andik mengenai masalah yang terjadi di sekitar kawasan konservasi pada diskusi yang berlangsung di Auditorium Nuswantara FISIP UB pada Selasa (15/5).

Senada dengan Andik, Pemimpin East Java Ecotourism Forum Agustiyono memandang bahwa konsep ekowisata yang diusung pemerintah tidak banyak memperhatikan aspek lingkungan. Padahal menurut Agus, lingkungan merupakan daya dukung utama terhadap pariwisata.

“Pariwisata itu sangat dipaksa. Pariwisata dipandang hanya membikin gapura, bunga Edelweis, namun pariwisata itu ilmu. Walaupun Pak Jokowi sudah bilang ini menjadi sektor pembangunan Indonesia menjadi nomor tiga setelah minyak bumi dan kelapa sawit, tapi planning pariwisata masih lemah. Ini yg menjadi hambatan,” ujar Agus.

Terkait dengan arah pengembangan ekowisata di daerah Malang Selatan khususnya Kondang Merak, Agus menyarankan agar terdapat batasan pengunjung kawasan. Selama ini tidak ada batasan jumlah pengunjung wisata di Kondang Merak.

“Kondang merak itu dikembangkan seperti apa, ya wisata minat khusus ke arah ekowisata dan pembatasan kuota pengunjung. Tidak seperti mass tourism yang pengunjungnya tidak terbatas. Seperti Tiga Warna ada pembatasan pengunjung, Semeru 500 orang,” ungkap Agus.

Kekayaan alam di Malang Selatan sangat potensial baik sebagai darah konservasi maupun wisata. Agus menyebut kawasan hutan lindung pesisir Malang Selatan memiliki 13 spesies elang dan 130 spesies burung. Kawasan Malang Selatan juga menyumbang 56 persen spesies kupu-kupu di Malang Raya, yakni 150 dari 253 spesies. (sad/lia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.