Perempuan-perempuan warga kampung sekitar tanggul Lumpur Lapindo yang menghadiri aksi, sembari membawa bukti dampak kesehatan (29/5). Foto: Nuris

SIDOARJO-KAV.10 Area Titik Pusat 25 Lumpur Lapindo dibanjiri khalayak umum dalam rangka Peringatan 12 Tahun Semburan Lumpur Lapindo pada Selasa (29/5). Peringatan ini bertemakan tentang “Suara Gugatan Perempuan Korban Lapindo: Apa Yang Terjadi Pada Tubuh Kami? Dimana Tanggung Jawab Negara.” Masyarakat yang tergabung dalam aliansi merupakan warga terdampak Lumpur Lapindo dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Koordinator Aksi dan Pendiri Kelompok Belajar Perempuan Ar-Rohma, Harwati mengungkapkan rasa kekecewaan terhadap pemerintah yang membiarkan masalah dampak semburan lumpur terus berlarut.

“Kami hendak mempertanyakan dimana tanggung jawab negara melihat situasi kesehatan korban Lapindo seperti sekarang ini. Munculnya berbagai gejala penyakit berat yang sebelumnya tidak pernah ada menunjukkan ada yang berubah pada tubuh kami. Negara harusnya hadir untuk memastikan ada jaminan keselamatan pada warganya, jika warga dibiarkan saja mereka membunuh kami perlahan-lahan,” gugat Harwati.

Harwati menyampaikan aksi ini merupakan salah satu upaya mendorong pemerintah agar lebih fokus pada kasus kesehatan warga terdampak Lumpur Lapindo.

“Kami berharap pemerintah itu lebih fokus menangani korban soal kesehatan karena dari lumpur itu kandungannya sangat mengerikan bagi kami. Ada salah satunya itu yang memicu penyakit kanker,” tandas Harwati yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang ojek di tanggul Lumpur Lapindo.

Direktur WALHI Jatim Rere Christanto menyebut permasalahan dampak kesehatan yang dirasakan masyarakat pasca 12 tahun dapat menyebabkan munculnya permasalahan baru bagi masyarakat. Ia menyoroti dampak kerusakan lingkugan yang ditimbulkan oleh semburan lumpur tidak dapat diselesaikan hanya dengan mekanisme pembayaran ganti rugi saja.

“Klaim BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo,red) misalnya, sudah hampir 100 persen pembayaran selesai. Tapi kan bukan di situ problemnya. Ada problem besar yang mengiringi dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh semburan lumpur Lapindo. Kerusakan lingkungan akibat logam berat mendorong kemudian penurunan kesehatan warga. Penurunan kesehatan warga menyebabkan kemudian sosial ekonomi mereka juga bermasalah,” ujar Rere.

Dititik Pusat 25 perempuan-perempuan yang bekerja sebagai ojek di sekitar tanggul Lumpur Lapindo dan Komunitas Ar-Rohma yang merupakan warga terdampak terlihat ikut menyuarakan tuntutan mereka. Peringatan ini berlangsung hingga petang di titik pusat 21. Acara diramaikan dengan Pembacaan puisi, pameran foto, dan mural yang digagas oleh pemuda-pemuda Sidoarjo. (odp/sad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.