Isu Papua Bergema di Momentum Mayday

0
2
Yustus Samon tengah berorasi tentang isu Papua di hadapan massa aksi ARM dan ARMB. Foto: Fahmi

MALANG-KAV.10 Aksi memperingati Hari Buruh Internasional dimanfaatkan oleh Aliansi Rakyat Malang (ARM) dan Aliansi Rakyat Malang Bersatu (ARMB) untuk menyuarakan isu terkait Papua. Banyaknya permasalahan Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua disebabkan oleh kuatnya dominasi dari investor-investor asing untuk mengeksploitasi kekayaan alam di Papua. Koordinator Aksi Mayday dari ARM Putut Prabowo berpendapat bahwa berbagai persoalan di Papua masih perlu disuarakan pada setiap ruang publik.

“Papua, saya pikir juga bagian dari kelompok atau bagian dari warga, bagian dari rakyat, yang punya hak demokrasi yang sama dengan kita, kan disitu. Dimana kemudian sebetulnya rakyat seluruh dunia itu meyakini bahwa tidak ada satupun yang mempuyai hak untuk mengabil, merampas hak orang lain,” ujar Putut.

Menurutnya, persoalan HAM di berbagai daerah masih sering terjadi. Persoalan ini selain menimpa buruh juga dirasakan oleh masyarakat yang ada di sekitar kita. Putut menambahkan contoh bagaimana negara berupaya untuk melakukan penindasan terhadap rakyatnya.

“Bagaimana kemudian kaum tani itu dipaksa untuk mengakui tanah yang mereka garap bertahun-tahun, tanah yang mereka sudah olah bertahun-tahun itu untuk dirampas kembali oleh tuan tanah besar yang disebut sebagai Perhutani. Nah, ini adalah bentuk bagaimana kemudian rakyat di Malang juga sebenarnya sama dengan apa yang terjadi di tanah Papua,” jelasnya.

Senada dengan Putut, Koordinator Aksi Mayday Yustus Samon mengatakan bahwa aksi semacam ini perlu untuk dilanjutkan. Menuntut hak-hak buruh bagi Yustus sama halnya dengan menuntut hak-hak umat manusia yang juga merasakan ketertindasan.

“Dengan momen Mayday ini mungkin tahun membangun kesadaran kepada buruh bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa kami ada bersama-sama dengan mereka. Kami Aliansi Rakyat Malang hadir bersama-sama dengan mereka untuk membela dan menuntut tercapainya hak-hak mereka untuk sebagaimana manusia normal itu,” kata Yustus.

Ia bahkan berencana untuk mengadakan aksi serupa pada tanggal 20 Mei, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Yustus berharap walaupun akan ada rencana aksi yang dilakukan di hari puasa, antusiasme massa tetap bisa terjaga.

“Nah, ini kami akan terus membangun komunikasi dan akan terus melakukan kajian-kajian yang lebih ilmiah lagi dan berkomitmen kepada diri. Agar kami di setiap organ bisa untuk kembali mendidik setiap massa mereka lagi. Dan harapannya dengan kami melakukan komunikasi dan melakukan kajian-kajian terus. Ke depan diskusi-diskusi itu persatuan kami akan terjaga agar di tanggal 20 Mei nanti, kami akan turun bersama-sama lagi,” ucap pria yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Papua tersebut. (sad/nur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.