Suasana diskusi sekaligus nobar film “Mahaguru Tan Malaka” di Panggung Apresiasi FISIP UB Rabu kemarin (18/04). Foto: Dokumentasi panitia

MALANG-KAV.10 Himpunan Mahasiswa Politik (HIMAPOL) UB bersama Sistasis Hubungan Internasional  UB menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul “Mahaguru Tan Malaka” di Panggung Apresiasi FISIP UB Rabu kemarin (18/04). Nobar yang dikemas dalam acara Politik Kongkrit ini dimoderatori oleh Konshika Amani Koeswara dengan pemateri Nanda Pratama, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional dan Norsatyo Malik, mahasiswa Ilmu Pemerintahan.

Ini merupakan kali kedua nobar film dokumenter karya Daniel Rudi Haryanto ditayangkan di Kota Malang setelah tanggal 30 Maret sebelumnya digelar di Gazebo Literasi. Acara yang dilanjutkan dengan diskusi mengenai film dan sosok Tan Malaka itu sendiri menurut Ja’far Muhammad selaku penyelenggara bertujuan untuk mengenal lebih jauh tentang sosok Tan Malaka.

“Tujuan utamanya sih supaya kita mengenalkan, belajar tentang siapa itu Tan Malaka, dia dulu ngapain, belajar dimana. Tadi juga belum sampe dalem-dalemnya pemikiran banget. Itu jadi wisata sejarah saja. Jadi ada loh tokoh yang namanya Tan Malaka bahkan juga masih ada yang belum tahu,” ujar mahasiswa Ilmu Politik ini.

Keteguhan prinsip yang terlihat dari sosok Tan Malaka menurut pemateri, Nanda Pratama hendaknya dapat diimplementasikan oleh mahasiswa sekarang ini mengingat idealisme mahasiswa yang akhir-akhir ini mulai bergeser.

“Akan lebih baik seorang idealis ketika dia kafah menjadi seorang idealis. Jadi kalo mau berpikir radikal, radikal sekalian. Kalo mau berpikir liberal, liberal sekalian. Nah ini yang kemudian tidak ada corak pemikiran seperti ini selama ini saya lihat di Indonesia. Ketika masih mahasiswa dia idealis, ketemu seiring dengan kebutuhan pribadi akhirnya pragmatis juga,” tuturnya.

Fitria Lestari, salah satu peserta diskusi menganggap Tan Malaka sebagai sosok yang berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia. “Beliau rela untuk mencari ilmu di Belanda sehingga ilmu yang didapat diimplementasikan di negaranya yang kemudian menjadi saran dan masukan bagi Ir. Soekarno dalam memerdekakan Indonesia,” komentarnya terkait sosok Tan Malaka.

Tan Malaka merupakan pahlawan nasional yang berperan dalam mencetuskan konsep Republik Indonesia melalui buku “Naar de Republiek Indonesia”. Sekembalinya mengenyam pendidikan di Belanda, Tan kemudian menjadi guru Bahasa Melayu anak-anak buruh perkebunan teh dan tembakau di Sanembah, Sumatera Utara. Dari sinilah Tan Malaka tergerak untuk memperjuangkan hak rakyat dari kolonialisme Belanda. (fir/nur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.