Suasana diskusi bertajuk “Melihat Fenomena Independent Women dari Berbagai Perspektif” yang digelar di Panggung Apresiasi FISIP UB Kamis kemarin (19/4). Foto: Andik

MALANG-KAV.10 Perjuangan perempuan adalah perjuangan melawan stereotip yang dipengaruhi oleh budaya patriarki di Indonesia. Sebagaimana disampaikan oleh Siti Kholifah selaku pembicara dalam acara diskusi yang di gelar BEM FISIP UB dalam rangka memperingati hari Kartini, dengan mengangkat tema “Melihat Fenomena Independent Women dari Berbagai Perspektif” pada Kamis (19/4). Menurut Siti, tantangan perjuangan hak perempuan muncul dari stereotip terhadap wanita.

“Stereotip yang sudah ada pada perempuan yaitu kalem, nangisan, lembut, feminisme sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan untuk memperjuangkan dirinya agar diakui sama derajatnya dengan laki-laki,” tutur Siti.

Dalam hal perjuangan perempuan wanita yang akrab dipanggil Bu Ifah ini juga menegaskan bahwa untuk kemajuan kaum perempuan, mereka tidak dapat berjuang sendiri melainkan tetap membutuhkan peran laki-laki, semisal  laki-laki sebagai seorang ayah, jika memahami tentang hak-hak perempuan, maka orang tua akan mendorong anak perempuannya untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya.

“Artinya isu tentang perempuan adalah masalah kita bersama, baik laki-laki maupun perempuan harus saling memahami dan saling mendukung untuk kemajuan perempuan. Kalau perempuan maju maka negara juga akan maju,” kata Siti.

Sementara itu, Heppy C. W Silaen menganggap budaya ketimuran yang mengistimewakan perempuan justru membuat perempuan menjadi manja serta memandang bahwa perempuan itu adalah sesuatu yang berharga, cantik, dan indah dari sifat fisiknya saja. Pada akhirnya kita belum bisa melihat seorang dari kualitasnya membuat perempuan menjadi ada pada kelas kedua, belum sampai pada tahap memberikan kesempatan untuk perempuan memilih jalannya.

“Perempuan harus memperjuangkan posisi yang sama dengan laki-laki, sama bukan berarti menentang laki-laki tetapi kesetaraan, itulah yang diperjuangkan Kartini dan itu harus kita implementasikan sekarang. Anak muda harus bisa mendiri, mandiri bukan berarti hanya menghidupi diri sendiri melainkan melakukan hal yang seharusnya bisa kita lakukan,” ujar perempuan yang pernah menjabat Wakil Presiden BEM FISIP UB 2016 ini. (nh/sad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.