Salah satu spanduk yang dibentangkan massa aksi Rabu sore kemarin (25/4). Foto: Nuris

MALANG-KAV.10 Ada pemandangan mencolok di tengah padatnya arus lalu lintas Bundaran UB Rabu sore kemarin (25/4). Sejumlah mahasiswa membentangkan empat spanduk panjang berisi tulisan bernuansa hitam merah, salah satunya bertuliskan “UB Banyak Masalah, Mari Suarakan”. Di seberang jalan, beberapa mahasiswa lain sibuk berorasi sambil menenteng toa yang beradu suara dengan lalu lalang kendaraan.

Menko Pergerakan EM UB Heri Al Ghifari mengungkapkan aksi sore itu dilakukan sebagai pemanasan menjelang aksi 2 Mei memperingati Hari Pendidikan Nasional. “2 Mei nanti aksi besar, agenda besar, target besar, isunya juga besar-besar. Semua BEM bersepakat untuk turun bahkan seluruh fakultas, LSO, UKM dan segala macam itu kemarin sudah komunikasi, mereka siap menyuarakan,” ujar mahasiswa Sosiologi angkatan 2015 ini.

Heri menyebutkan isu terkait UB Kediri, Vokasi dan PTN-BH masih akan menjadi permasalahan yang disuarakan pada aksi tahun ini, selain isu-isu lain menyangkut kepentingan mahasiswa disabilitas serta student loan. “Tahun kemarin PTN-BH kita sama-sama menolak, tahun ini kita suarakan kembali untuk menolak,” tuturnya.

Ketua Keamanan Markas Komando (MAKO) UB Syambodo Rachman yang ditemui di ruangannya Kamis kemarin (26/04) menyatakan EM memang sudah berkomunikasi terkait rencana aksi 2 Mei, namun baru secara lisan. “Bilangnya cuma jumlahnya besar-besaran, ada dua soundsistem pickup yang masuk kesini, besar-besarannya juga belum tahu berapa orang yang ikut demo. Rektorat juga sudah secara lisan mengetahui,” bebernya.

Syambodo mengaku tidak ada persiapan khusus yang dilakukan tim satuan pengamanan (satpam) UB menyambut rencana gelaran aksi ini. “Tidak ada penjagaan terlalu khusus, nanti keamanan cuma pencegahan dan mengimbangi melihat situasi dan kondisi saja. Saya anggap aksi itu ya biasa lumrah mahasiswa. Kampus tanpa aksi seperti makanan tanpa ada rasanya, hambar,” pungkasnya.

Selain orasi pra-aksi, EM juga menggelar konsolidasi akbar Jumat lalu (27/4) di Gazebo Raden Wijaya terkait rencana aksi ini. Diketahui, aksi serupa juga sempat dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Pada 2017 lalu, massa aksi mengajukan sebelas tuntutan yang diterima dan ditandatangani Rektor Bisri, salah satunya terkait penolakan PTN-BH. Namun hal ini sempat memicu polemik akibat adanya perubahan kalimat pada poin satu tuntutan yang semula tertulis “Menolak PTN-BH” menjadi “Transparansi Persiapan (Hearing dan Pelatihan Mahasiswa) berkaitan PTN-BH”. (nur/lia)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.