Kartini dalam Labelitas Budaya

0
1

Oleh: Mahasiswa FIB 2016

Kartini bukan hanya nama tapi ibarat sebuah jalan bagi manusia khususnya wanita. Bisa saja nama itu dipinjamkan untuk sosok Kartini akhir-akhir ini. Tetapi berbagai jalan itu belum bisa mengimbangi bagaimanakah posisi wanita di mata masyarakat Indonesia. Mungkin istilah itu lebih tepat jika perempuan dikatakan sebagai istilah jawa yang berasal dari bahasa Kawi Wadu “wadon” berarti perempuan memang dititahkan untuk berada di dunia ini sebagai abdi laki-laki. Sedangkan istilah wanita lebih memanusiakan perempuan secara pengetahuan dan cara berfikirnya. Kata wanita juga diadopsi dari bahasa jawa dan terbentuk dari kereta bahasa “wani ditata” serta “wani nata”. Bahasa ini mengandung pemahaman arti yang tentunya berbeda, wani ditata memiliki arti bahwa perempuan tersebut mau dan berkenan untuk di atur. Sedangkan kata “wani nata” perempuan memiliki peran dan mempunyai sikap untuk berani mengatur sesuatu. Sehingga bisa dikatakan peran perempuan seharusnya seperti halnya istilah wanita selain berani dalam hal mengatur dan bersikap secara santun dengan pengetahuan dan penididikan, perempuan juga harus tahu kodrat dia secara alamiah jika dilihat dalam segi biologis dan budaya.

Penindasan makna ataupun labelitas mungkin dapat dikaitkan dengan  konsep budaya memandang wanita sebagai “padi” dan laki-laki sebagai “tanah”.  Karena secara kultural penempatan perempuan dan laki-laki disebabkan oleh sistem nilai dan simbol budaya. Dan pembedaan yang sangat konkret melihat tentang manusia dan alam. Kebudayaan berupaya mengendalikan dan menguasai alam yang selanjutnya dimanfaatkan untuk kepentingan. Oleh karena itu budaya berada pada posisi superior dan alam menjadi pihak inferior. Istilah tersebut bisa dikatakan bahwa budaya adalah “laki-laki” dan alam adalah “perempuan”.

Namun tentang bagaimana pemaknaan labelitas wanita didalam masyarakat tentang istilah “pelakor” yang sama-sama bisa dilakukan oleh laki-laki tanpa memandang gender. Hal itu mungkin mengenai budaya pemaknaan dan juga peran perempuan dalam istilah jawa, sehingga menyebabkan paradigama bagi masyarakat untuk perempuan tetap menjadi hal yang negatif. Istilah “pelakor” sekarang ini menjadi pembicaraan menarik bagi masyarakat yang telah memiliki pasangan. Dan ujaran tersebut menyampingkan pemaknaan lain yang sama derajatnya, apabila itu dilakukan oleh laki-laki. Penyebab hal itu pastinya sangat bervariatif, karena bisa dikatakan itu menyangkut dengan budaya dan logical fallacy dari masyarakatnya. Walaupun contoh dari logical fallacy dari permasalahan ini bukan sesederhana masyarakat jawa  menyebut kegiatan “adhang sego” yang seharusnya “adhang beras,” dan berkiatan dengan istilah-istilah penamaan yang sangat teratur di Jawa.

Pendidikan atau pengetahuan wanita jika dilihat dari perekembangan sejarah negara sangat jauh tertinggal, dibandingkan dengan pengetahuan dalam bidang sosial itu sendiri. Sosiologi seharusnya memiliki peran bahkan menjadi pionir dari studi tentang “wanita” tersebut. Walaupun selama ini tema-tema yang telah diangkat dalam hal sosial juga melibatkan peran wanita itu sendiri, seperti ketenagakerjaan dan keluarga berencana. Namun pada kenyataannya sekarang ini, tema tersebut belum bisa menempatkan wanita dalam bidang sosial itu sendiri. Walaupun demikian tema-tema itulah yang sekarang ini membuat beberapa tokoh berkeinginan untuk menjadikan pendidikan wanita sebagai beberapa penelitian.

Namun ini menyangkut bagaimanakah perempuan bisa dikatakan sebagai tokoh ataupun manusia yang memiliki peran mars didalam sebuah hubungan, dan peran itu dapat dilakukan sama oleh laki-laki. Mungkin secara ujaran sangat sederhana, dan apabila kita paham tentang sebuah pertunjukkan teater yang didalamnya terdapat beberapa jenis peran, tidak akan sesederhana itu kita memperkotak peran manusia. Karena kegiatan itu pastinya memiliki sebab-akibatnya. Seperti halnya kita membaca sebuah cerita dan didalamnya terdapat sebuah alur peristiwa, pastinya tokoh tersebut tergambar dari alur yang bersifat kausalitas. Karena memang seperti itu hakikatnya sebuah kehidupan, kadang kita merasa bahwa garis peran ada pada kita, maka logika itu bukan hanya satu bagi individu saja melainkan seluruh penduduk di dunia ini juga memiliki garis peran yang sama. Maka sangat menyayangkan sekali apabila emansipasi ini hanya tersudut pada pemaknaan istilah bahasa dan juga budaya.

Inspirasi Sosok Kartini

Sejarah negara kita telah menghadirkan beberapa tokoh wanita yang sebenarnya bisa menjadikan contoh dalam pendidikan wanita itu sendiri. Namun dikarenakan pengkajian terhadap pendidikan wanita belum mendapatkan tempat yang intensif, sehingga hal itu belum bisa dikatakan sebagai hal yang layak. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya adalah RA. Kartini. Kartini mendapatkan perhatian dari publik dengan diperangitinya 21 April sebagai hari nasional bagi negara ini. Selain itu perjuangan dan juga pemikirinya terhadap wanita di Indonesia pada masa itu belum bisa mandapatkan ruang dalam hal sosial, itu juga terdapat bukti pemikiranya didalam surat-surat yang telah ia tulis untuk teman-temannya, dan kemudian dibukukan sekaligus terbit dengan judul Door Duisternist tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Kartini adalah seorang bangsawan dan mendapatkan gelar RA didepan namanya. Namun dengan nama tersebut tidak membuka jalan baginya untuk mendapatkan gelar pendidikan yang tinggi seperti yang ia cita-citakan. Bahkan kedua orang tuanya hanya menyokalahakannya sampai pada tingkat dasar ataupun namanya pada saat itu adalah Europese Lagere School (E.L.S.) yang kemudian ia dipingit. Gelar RA sendiri menurut tradisi Jawa ketika ia belum diperistri oleh Raden Adjeng Woerjan seorang bangsawan keturunan Raja Madura, berarti Raden Ajeng, namun setelah menikah gelar itu menjadi Raden Ayu. Kedua orang tua Kartini merupakan orang yang terpandang. Ayahnya bernama R.M Sosroningrat menjabat sebagai Bupati Jepara, dan ibunya merupakan anak dari seorang kiai ataupun guru agama di Telukkawur, Kota Jepara.

Perjuangan Kartini yang ia mulai dengan kesadaran kesenjangan antara wanita dan laki-laki, menjadikan ia aktif menuliskan gagasan tersebut dalam surat  kepada teman-temanya. Sayangnya perjuangan tersebut tidak membawanya pada umur yang memanjangkan langkahnya tersebut. Diumurnya 25 tahun setelah melahirkan anak pertamanya, disaat itu pula ia menutup matanya. Untuk mengenang hal tersebut maka munculah SK Presiden RI nomor 108,2/5/1964, sekaligus Kartini menjadi pahlawan nasional.

Membumikan Konsep Emansipasi

Apabila dilihat dari perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan Aristoteles mengatakan perempuan adalah laki-laki yang tidak lengkap dan manusia yang tidak memiliki jiwa. Bagi dia perempuan memiliki inferioritas biologis sehingga mengakibatkan inferior dalam berbagai hal. Perempuan tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan rasio, dan dengan itu berdampak pada kemampuan perempuan dalam mengambil keputusan. Hal itu juga menjadi acuan bagi Sigmund Freud yang mengatakan bahwa aspek psikologi perempuan berpengaruh terhadap kehidupan sosialnya. Pemikiran tersebut berkembang dan menjadikan banyak orang beracuan seperti itu, contohnya pendidik, pekerja sosial, dan politisi. Padahal prinsipnya perbedaan biologis tersebut tidaklah menjadi masalah dan tidak perlu dipermasalahkan. Secara kodrati kaum perempuan dengan organ produksinya bisa hamil, melahirkan dan menyusui, dan kemudian memiliki peran gender sebagai perawat, pengasuh, dan juga pendidik.

Soedrajat dalam artikelnya memberikan sebuah paparan menarik dengan masyarakat sekarang ini memperingati hari kartini dengan kegiatan yang kurang sesuai dengan konsep emansipasi yang dipikirkan oleh Kartini. Ia juga memberikan penjelasan selama sejarah nasional Indonesia sejarah pergerakan perempuan dalam sebuah konstruksi yang bias terhadap gender. Kontruk sejarah nasional, termasuk yang diajarkan di sekokah-sekolah mensistematisasi pergerakan perempuan yang menyumbang perubahan dan kemajuan bangsa lewat kegiatan publik. Perjuangan seorang perempuan dapat dikatakan penting apabila perempuan melakukan kegiatan publik yang selama ini dilakukan oleh laki-laki. Soedrajat  juga memaparkan bahwa keterlambatan feminisme muncul ditahun 1960-an, serta gerakan tersebut menjadi isu dalam pembangunan ketika tahun 1970-an. Oleh karenanya maka diperlukan adanya dekontruksi atas penulisan sejarah nasional dengan menempatkan pergerakan perempuan ataupun pendidikan perempuan secara proposional.

Pendidikan pengarusutamaan gender akan bermanfaat bagi perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Karena pengarusutamaan gender merupakan media adaptasi manusia dengan lingkungannya, oleh karena itu pengarusutamaan selalu bersifat dinamis, bisa berubah, diubah, dan disesuaikan dengan perkembangan manusia sekarang ini. Oleh karenanya, sebagai upaya masyakarat patut menyesuaikan diri dengan perkembangan, sehingga kebudayaan perlu adanya evaluasi dengan melakukan reintepretasi dan reposisi dengan perkembangan lingkungan yang ada di sekitarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.