Perwakilan BNN bersama jajaran Rektorat UB berfoto bersama setelah penandatanganan nota kesepahaman, kemarin (10/4). Foto: Fahmi

MALANG-KAV.10 Identitas Universitas Brawijaya (UB) sebagai kampus dengan jumlah mahasiswa terbanyak, menjadi peluang bagi para pengedar obat-obatan terlarang. Maka dari itu UB bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) mengadakan kuliah umum dan penandatanganan nota kesepahaman dengan tema “Pentingnya Peran Negara dan Perguruan Tinggi dalam Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba” yang berlangsung di Aula lantai empat Gedung A Fakultas Ilmu Administrasi pada Selasa kemarin (10/4).

Kepala BNN RI Heru Winarko menyampaikan akibat gaya hidup mahasiswa dan pergaulan bebas, peredaran narkoba di lingkungan kampus semakin mudah. Karena saat ini, peredaran narkoba sudah sangat masif dan terstruktur. Maka, pencegahan dari maraknya peredaran narkoba harus dilakukan pula oleh seluruh pihak di lingkungan kampus.

“Bagaimana kita mengantisipasi adanya narkoba ini, dan bagaimana di kampus ini? saya mohonkan untuk semuanya, baik pengajar, dosen maupun mahasiswa agar ‘P4GN’ seperti yang saya sampaikan. Yakni melakukan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaaan, dan peredaran gelap narkotika itu,” ujar pria yang berpangkat Komisaris Jenderal Polisi tersebut.

Senada dengan Heru, Rektor Bisri sepakat untuk memerangi kejahatan peredaran gelap narkotika. Bisri mengakui beberapa upaya telah dilakukan di kampus untuk mengurangi dampak buruk penyalahgunaan narkoba. Namun, menurutnya program P4GN perlu dikembangkan lebih lanjut.

“Hari ini adalah upaya kami untuk melakukan sosialisasi dan sekaligus pencegahan narkoba yang berada di UB. Yang kedua kita melakukan tes untuk narkoba, hanya ada masalah di pendanaan. Karena menurut kami dengan jumlah yang banyak kalau 50 ribu dites enam bulan sekali untuk melakukan itu juga memakan biaya tinggi,” papar Bisri saat memberikan sambutan.

Menurut data yang disampaikan oleh Heru pada sesi kuliah umum, perkembangan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia sejak 2008 hingga 2017 telah mengalami penurunan sekitar 0,22 persen. Namun angka tersebut sempat naik di tahun 2011, mencapai angka 2,23 persen dari populasi penduduk usia 10-59 tahun.

Persentase kategori penyalah guna narkoba di tahun 2017 menunjukkan sebagian besar pengguna di Indonesia merupakan current user atau coba pakai, di angka 57 persen, sedangkan pengguna rekreasional atau teratur mencapai 27 persen, dan sisanya adalah pecandu. (sad/nur)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.