TERKUNGKUNG – Selain menggelar orasi, dalam aksi memperingati Hari Nelayan, mahasiswa FPIK juga menggelar aksi teatrikal di Bundaran UB Senin kemarin (9/4). Foto: Fachreza

MALANG-KAV.10 Memperingati Hari Nelayan Nasional, sejumlah mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) menggelar aksi Senin kemarin (9/4). Aksi ini sempat dimundurkan tiga hari dari rencana semula. Sejumlah enam isu terkait nelayan dan masyarakat pesisir menjadi sorotan dalam aksi ini diantaranya isu reklamasi, aturan zonasi, alat tangkap, akses pendidikan, listrik serta ketersediaan air bersih.

Koordinator Aksi Bahana Jagat Patria menuturkan tujuan aksi ini digelar sebagai sarana  pencerdasan bahwa keadaan pesisir Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Menurutnya angan-angan Pemerintah dalam Nawacita untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia memang sudah mengarah pada arah yang benar, namun untuk menjadi poros bahari dunia, Pemerintah terlihat tidak serius.

“Regulasi hari ini tidak berpihak pada rakyat kecil. Misalnya kasus di Jepara, Kendal dan Lamongan nelayan-nelayan kecil tidak mendapat solusi dari pelarangan alat cantrang,” tuturnya.

Ia mencontohkan regulasi zonasi sebagai produk aturan Kementerian Perikanan dan Kelautan yang menurutnya tidak jelas.

“Regulasi zonasi yang tersadur dalam UU No 27 Tahun 2007 dan diturunkan pada Rencana Pembangunan Zonasi di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil di seluruh Indonesia ini tidak jelas. Ada zonasi, dimana rencananya 0-10 mil nelayan tidak boleh melaut. Itu sangat merugikan nelayan kecil karena kapal mereka kecil-kecil,” ungkap Menteri Kastrat BEM FPIK ini.

Salah satu peserta aksi Ahmad Rizki Prayogi berharap masyarakat tidak terlena akan citra Menteri Susi selama ini dan membiarkan regulasi-regulasi yang tidak jelas justru menindas kaum nelayan.

“Penenggelaman kapal tidak berdampak baik bagi masyarakat, mending kerja buat regulasi yang lebih baik buat masyarakat nelayan,” ujar mahasiswa FPIK angkatan 2015 ini.

Aksi ini diikuti oleh sejumlah mahasiswa yang lebih dulu menggelar aksi diam di area FPIK, kemudian melakukan orasi di Bundaran UB sembari membawa kertas-kertas berisi tuntutan dan kritik. (fir/nur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.