Diskusi “Media Massa dan Masa Depan Penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia” yang berlangsung di depan Gedung FISIP Universitas Merdeka (Unmer) Malang kemarin (24/3). Foto: Fahmi

MALANG-KAV.10 Sejatinya media massa menjadi corong utama untuk menyuarakan sisi kemanusiaan melalui jalur alternatif. Tapi semua itu akan sirna ditelan imajinasi dan wacana ketika media massa kita masih berada di dalam cengkeraman elite kuasa plutokrasi di bawah sistem pemerintahan oligarki.

Hal tersebut disampaikan oleh aktivis Komite Kamisan Malang Abdurrahman Sofyan pada diskusi yang bertajuk “Media Massa dan Masa Depan Penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia” yang berlangsung di depan Gedung FISIP Universitas Merdeka (Unmer) Malang kemarin (24/3).

Menurut Sofyan, pers gelisah akibat pelanggaran hak asasi manusia. Dalam hal ini masyarakat harus berhadapan dengan negara dan elite yang berkepentingan di ruang publik.

“Yang tadinya itu mestinya melindungi rakyatnya, justru malah menjadi otoritatif atau negara-sentris. Saat ini dari ujung rambut kita sampai ujung selangkangan kita itu diawasi sama negara. Sederhananya begitu,” ujar Sofyan.

Untuk memahami permasalahan hak asasi manusia, aktivis Omah Munir Andhika Yudha menjelaskan bahwa setiap individu perlu tahu hak yang dimiliki dan menjadi karakter kita sebagai manusia.

“Kenapa terjadi pelanggaran HAM? Karena orang tidak bisa melihat dirinya sendiri sebagai manusia. Kalo manusia itu peduli, berarti kita harus menganggap orang lain juga harus punya hak hidup,” ucapnya.

Pengaruh media terhadap penegakan hak asasi manusia di Indonesia, bagi Andhika besar pengaruhnya. Ia juga berpesan kepada para peserta yang merupakan pegiat pers untuk bisa bersama-sama untuk melawan pembungkaman.

“Jadi satu kali menyuarakan, diabaikan. Dua kali menyuarakan, diabaikan. Selanjutnya, harus tetep disuarakan. Karena tidak mungkin orang itu bisa tahan terhadap tuntutan-tuntutan dari banyak orang. Jadi memang peran media terhadap HAM itu luar biasa,” pungkasnya.

Kegiatan ini digelar Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Malang dalam rangkaian Belajar Bareng dan Makrab Bareng (Babaran) sekaligus pelatihan jurnalistik bertema “Data Driven Journalism dan Jurnalisme Investigasi.” (sad/nur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.