Suasana nobar film dokumenter “Maha Guru Tan Malaka” di Gazebo Literasi Kamis kemarin (29/3). Foto: Rinto

MALANG-KAV.10 Nonton bareng (nobar) film berjudul “Maha Guru Tan Malaka” digelar di Gazebo Literasi, Dau, Kabupaten Malang, pada Kamis kemarin (29/3). Film dokumenter yang disutradarai Daniel Rudi Haryanto ini mencoba menapak tilas kehidupan Tan Malaka di Kota Haarlem, Belanda.

Lahir di Pandam Gadang, Sulik, Sumatera Barat pada 2 Juni 1897 dengan nama Ibrahim Datuk Tan Malaka, Tan tumbuh sebagai salah satu tokoh pejuang kemerdekaan yang menginspirasi baik generasi di masanya maupun kini. Daniel Rudi Haryanto, dalam pemutaran film dokumenter pertamanya di Indonesia ingin menyebarkan semangat Tan kepada masyarakat, khususnya kawula muda.

“Saya terinspirasi dari Tan, salah satu sosok yang berada di sekitar kejadian proklamasi Indonesia, dimana semasa saya berkuliah saya banyak mendengar tentang dia dari beberapa aktivis yang sekarang mengemban amanah di pemerintahan. Tujuannya untuk membuat masyarakat kita bangga mempunyai Tan, dan memiliki semangat kemerdekaannya Tan,” ujar pria yang akrab disapa Rudi ini.

Berkat bantuan dana dari Kemendikbud, Rudi berhasil menyelesaikan film berdurasi 32 menit tersebut. Daniel pun berencana untuk menambah durasi film menjadi 73 menit, sebagai persembahan 73 tahun kemerdekaan Indonesia. Lewat karyanya, ia memiliki misi untuk mengangkat sosok dan menghilangkan stigma negatif tentang Tan Malaka.

“Kita dalam membuat dokumenter ini dibantu oleh Kemendikbud dengan 175 juta, jadi kita mengajukan proposal dahulu kepada pihak pemerintah, ini kita shooting dua minggu, satu minggu di Perancis dan satu minggu di Belanda,” bebernya mengenai proses produksi film ini.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UB Nabila Amran mengapresiasi gelaran nobar film ini. “Tan Malaka ini kan sosok yang kontroversial ya, belum banyak orang yang bisa menerima Tan Malaka secara bulat-bulatlah seperti itu. Tapi saya sangat mengapresiasi langkah ini,” ujar mahasiswi yang sedang menempuh skripsi dengan tema Tan Malaka tersebut.

Film dimulai dari kunjungan Rolando Oktavio (Marco), sebagai pemeran utama bersama sejarawan Belanda Harry A. Poeze ke toko buku tua yang memamerkan buku tentang Revolusi Perancis berjudul de Fransche Revolutie. Keduanya lantas beranjak ke perpustakaan, di sana diperlihatkan arsip berusia lebih dari 100 tahun tentang masa sekolah Tan. Di penghujung hari, Marco dan Poeze berkunjung ke gedung sekolah Tan yang sekarang menjadi gedung apartemen. (agn/sad)

2 COMMENTS

  1. Lahir di Pandam Gadang, Sulik, Sumatera Barat pada 2 Juni 1987 dengan nama Ibrahim Datuk Tan Malaka, Tan tumbuh sebagai salah satu tokoh pejuang kemerdekaan yang menginspirasi baik generasi di masanya maupun kini. Daniel Rudi Haryanto, dalam pemutaran film dokumenter pertamanya di Indonesia ingin menyebarkan semangat Tan kepada masyarakat, khususnya kawula muda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.