Salah satu pembicara dalam diskusi “Water War: Potensi Konflik yang Diabaikan” pada Kamis (29/3) di Kedai Kopi Tjangkir13. Foto: Hugo

MALANG-KAV.10 Fenomena konflik dari perebutan air sebenarnya bukan sekadar potensi, tetapi tampak dalam kehidupan kita sehari-hari. Manusia sebagai makhluk yang mengeksploitasi sumber daya air mengabaikan ekosistem yang kian memburuk. Berbagai keresahan akan persoalan air diutarakan dalam diskusi bertema “Water War: Potensi Konflik yang Diabaikan” pada Kamis (29/3) di Kedai Kopi Tjangkir13.

Menurut pendapat Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant, meningkatnya kebutuhan manusia terhadap air memunculkan konflik tersebut.

“Karena tidak ada yang tidak minum air ya, dan populasi penduduk meningkat, kompetisi antar sektor naik, kebutuhan ekonomi lebih tinggi sehingga air itu berubah dari benda sosial menjadi benda ekonomi. Ya itu yang memunculkan konflik,” ujarnya.

Bagi Raymond, upaya paling kongkret untuk menjaga ekosistem adalah dengan menghemat penggunaan air. Selain tidak membutuhkan biaya besar, menghemat air dapat dilakukan oleh semua orang.

“Tidak hanya dengan membuat biopori atau membuat sumur resapan, atau menanam pohon, tetapi juga dengan menghemat air. Contohnya, saya membiasakan misalnya mandi dengan kalau pakai gayung, airnya maksimum satu ember. Karena buat saya ya sudah, mandi kan kalau sabunannya bersih, hanya benar-benar kita pakai membersihkan tubuh kan tidak perlu sampai satu tandon, kan begitu,” ungkapnya.

Mengenai strategi menjaga ekosistem, Green-Blue Economy Strategic Leader World Wildlife Fund (WWF) Indonesia Pietra Widiadi menyebut bahwa upaya perlindungan kawasan merupakan salah satu kiat menjaga ekosistem, khususnya air.

“Maka, apakah kemudian kalau konteks kawasan yang dikonservasi ini akan mengonservasi ekosistem air, jawabannya iya. Nah, persoalannya kita sering kali mengabaikan itu. Mengabaikan konteks ekosistemnya,” tegasnya.

Pietra memberi contoh kawasan perlindungan di Dusun Cangar perlu untuk dikawal agar tetap terjaga. Pasalnya, ekosistem yang terdapat di sana akan memengaruhi daerah lain, terutama Kota Malang. Ia meyakini bahwa ekosistem di daerah aliran Sungai Brantas telah berubah akibat berkurangnya kawasan perlindungan di Cangar.

“Nah, ketika Kali Brantas itu mulai terpolusi, Badernya (Ikan Bader, red) mulai berkurang disitu. Nah, saya mau katakan bahwa, ketika di atas di Cangar itu untuk sektor pertanian yang masif, dengan menggunakan teknologi revolusi hijau, maka air yang kelihatan jernih itu ternyata sebetulnya terpolusi juga dengan pestisida, dengan obat-obatan itu. Nah, ikan badernya hilang,” tambahnya.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Kinerja Hijau ini diawali pemutaran film dokumenter pendek mengenai problem air di berbagai belahan dunia, dan dihadiri oleh para peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa teknik pengairan, serta beberapa warga daerah sekitar dan pengunjung kedai.(sad/nur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.