Suasana Rembug Budaya dalam rangka Dies Natalis ke-55 Universitas Brawijaya, di Studio UB TV (3/1). Foto: Fahmi

MALANG-KAV.10 Cara paling sederhana untuk merawat kebhinekaan adalah dengan menjadi bahagia. Bukan kebahagiaan yang bersifat materi namun lebih kepada kebahagiaan jiwa. Merawat kebhinekaan tidak akan menjadi beban bagi masyarakat bila kebahagiaan jiwa telah mampu dibangun masyarakat, sejak dari lingkup keluarga.

Budayawan Supriyanto GS menyampaikan, ada tiga hal yang harus diingat untuk bahagia sebagai upaya untuk merawat kebhinekaan yakni bersikap logis, etis, dan estetis. Bersikap logis menurut Supriyanto GS, bisa dicontoh dari sikap disiplin para atlet.

“Saya sedang mengusulkan untuk merawat kebhinekaan, rawatlah jiwa. yang penting atine gampang gembira sik. Gembira o, mengko kuwat sampeyan. Nah, kegembiraan itu ternyata prosedurnya sangat-sangat penuh derivat. Pertama, kudu logis. Saya takjub pada kebudayaan-kebudayaan logis itu. Misalnya cara makan atlet, itu logis banget,” ujar budayawan yang lebih akrab disapa Prie GS tersebut.

Sikap etis, menurut Prie, dapat dimaknai sebagai perilaku yang mengedepankan rasa malu dan kasih sayang. Ia memberi contoh dalam kehidupan sehari-harinya sebagai kepala keluarga.“Kalau kita belum paham budaya logis, berat sekali akan menginjak budaya etis. Masyarakat-masyarakat yang keren itu selalu masyarakat yang etis,” kata Prie pada sesi pertama Rembug Budaya yang diadakan di Studio UB TV pada Rabu (3/1).

Yang terakhir, sikap estetis tercermin pada bagaimana kita berusaha untuk mencapai sesuatu dengan usaha yang maksimal, sebagaimana ia memberikan analogi melalui sikap tokoh-tokoh terkemuka. Ketiga hal tersebut perlu diingat agar mampu merawat kebhinekaan. “Gus Dur itu kalau berhumor itu, gak ada kuotanya. Dan ngadepi apa apa itu, Gus Dur sudah siap. Departemen Penerangan saja dibubarkan sudah terang benderang,” kelakar pria yang juga berprofesi sebagai kartunis dan penulis tersebut.

Senada dengan Prie, Penasehat Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Romo Benny menegaskan bahwa sikap logis dan kritis perlu diterapkan untuk merawat kebhinekaan.

“Ketika logis itu sekarang kehilangan maknanya. Karena seseorang yang berfikir logis itu kan selalu berfikir tentang fakta, data dan mau memverifikasi, sekarang tidak ada. Sehingga orang hanya mengikuti arus pemberitaan dan arus pemberitaan itu tergantung siapa yang banyak follower-nya. Maka kalau pengikutnya banyak, dia bisa mendikte pikiran orang dan orang ikut apa yang dikatakan, iniah yang berbahaya. Nah, setelah logis kita tidak punya budaya kritis, karena budaya literasi kita rendah dan budaya membaca kita rendah,” ujar Romo Benny.

Ia juga memberi nasehat kepada sivitas akademika, bahwa kampus dapat menjadi wadah untuk memulai revolusi kebudayaan. Salah satu cara yang dapat dilakukan kampus untuk memulai revolusi kebudayaan ialah dengan membumikan pancasila sebagai ideologi negara.

“Saatnya lah universitas ini mampu membudayakan nilai nilai luhur budaya kita. Jadi perubahan saya percaya lewat apa? Jadi kalau pak rektor memang mulai membangun revolusi pak akan terjadi pak. Maka percayalah, revolusi akan dimulai dari kebudayaan itu,” ujar pastor kelahiran Malang tersebut. (sad/nur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.