"Kekuasaan sebagai Ego dan Eksistensi". Ilustrasi oleh Oky Dwi P.
“Kekuasaan sebagai Ego dan Eksistensi”. Ilustrasi oleh Oky Dwi P.

Oleh: Yulian Fahmi*

“Setiap potongan jaman mempunyai pahlawannya masing-masing. Mereka adalah putra-putri terbaik yang dilahirkan pada potongan jamannya. Mereka terpilih dari generasi mereka masing-masing, karena merekalah pemegang saham terbesar dari peristiwa-peristiwa kepahlawanan yang terjadi pada potongan jaman kehidupan mereka.”
― Anis Matta

Ketika mendengar kata pahlawan yang ada di benak setiap orang pastilah merujuk pada seseorang yang ikut andil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, seseorang yang mati berjuang dalam merebut kemerdekaan, ataupun seseorang yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Namun saat ini akan muncul perdebatan terkait definisi pahlawan, antara mereka yang secara harfiah merupakan pahlawan yang tercatat sebagai pahlawan nasional, atau secara makna subjektif tiap orang tentang siapa yang menjadi pahlawan baginya. Akan sangat sempit jika mengartikan pahlawan berdasarkan pengertian pahlawan nasional yang hanya beberapa, dan juga terlalu luas jika pahlawan diartikan berdasarkan definisi subjektif setiap orang.

Secara etimologis, kata pahlawan berasal dari bahasa sansekerta yakni phala berarti buah dan wan berarti orang, artinya adalah seseorang yang menghasilkan buah atau karya. Sementara menurut KBBI, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Kedua definisi tersebut memberikan sebuah tolak ukur bahwa pahlawan adalah mereka yang berkorban dan berkarya untuk bangsa.

Jika merujuk pada Kuntowijoyo (2005) terkait periodisasi sejarah Indonesia, masa-masa krusial tanpa mengesampingkan masa sebelumnya, diawali di masa kolonial. Di masa kolonial banyak bermunculan mereka yang mengorbankan jiwa raga dan berjuang untuk meraih kemerdekaan.

Setelah reformasi tidak ada lagi nama-nama besar yang lahir seperti pada era-era sebelumnya. Para mahasiswa yang menjadi tumpuan untuk menjadi pembesar bangsa kelak mulai acuh dengan perkembangan bangsa sendiri, mahasiswa milenial lebih bersifat independen dan tidak mau terikat, serta cendenrung mementingkan eksistensi diri di media sosial. Lantas apa arti hari pahlawan yang selalu diperingati setiap tanggal 10 November sampai era milenial sekarang. Apakah hanya sebagai bentuk formalitas untuk menghormati jasa para pahlawan terdahulu tanpa menjadi pahlawan itu sendiri di era milenial sekarang ini?. Jika tak banyak diantara pemuda era milenial yang mau menjadi pahlawan, kepada siapa kita berharap untuk kemajuan bangsa ini?. Tugas penting yang harus dijawab oleh pemuda era milenial adalah bagaimana membentuk mereka agar rela berkorban dan berkarya untuk bangsa ketika mereka cenderung mengejar ego dan esksistensi dirinya masing-masing.

Mahasiswa merupakan garda terdepan di dalam menjaga keutuhan kemerdekaan bangsa dalam era milenial seperti saat ini, sebagai bentuk perwujudan menjadi pahlawan. Lakukan inovasi dan buatlah solusi dari permasalahan yang dihadapi bangsa sesuai dengan peran masing-masing. Sebagai mahasiswa janganlah apatis dan kembangkan sikap kritis terhadap semua perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Generasi milenial suka sekali dengan hal-hal baru, tantangan baru, gagasan baru, cara berpikir, dan terkadang bersifat out of the box (keluar dari hal yang biasa). Unggul juga dalam konektivitas, hal inilah yang menjadi faktor keunggulan pada generasi milenial ini. Konektivitas antar pribadi menjadi keunggulan yang dimiliki oleh generasi yang lahir pada masa teknologi informasi terutama dalam berjejaring di dunia maya atau media sosial. Bahkan jejaring di dunia maya ini jauh lebih kuat dibanding di dunia nyata.

Satu lagi, bangsa Indonesia tidak pernah lepas dari budaya yang telah melekat pada jati diri bangsa yaitu gotong royong, ini juga masih harus tertanam dalam pemikiran para generasi milenial. Gotong royong inilah dapat diwujudkan dalam bentuk kolaborasi lintas sektoral, tidak lagi melibatkan satu segi pengetahuan saja namun melibatkan seluruh sektor pembangunan mulai dari sektor pemerintah, sektor swasta, sektor ketiga, akademisi, hingga media massa. Ketiga keunggulan generasi milenial inilah yang harus di sinergikan sebagai peran generasi milenial untuk menjadi pahlawan zaman sekarang.

*Mahasiswa FISIP – Sosiologi 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.