Keenam tokoh lintas agama menandatangani deklarasi kebhinekaan dalam Seminar Nasional Prasasti yang digelar di Gedung Widyaloka UB, (31/10)
Keenam tokoh lintas agama menandatangani deklarasi kebhinekaan dalam Seminar Nasional Prasasti yang digelar di Gedung Widyaloka UB, (31/10). Foto: Andhika P. 

MALANG-KAV.10 Undang enam tokoh lintas agama, Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAP) menggelar Seminar Nasional Prasasti bertajuk ‘Membangun Masyarakat Pluralis dalam Bingkai Kebhinekaan’. Dalam acara yang usai digelar kemarin (31/10), KH. Marzuki Mustamar (Islam), Dewa Agung G.A (Hindu), Pendeta David Tobing (Protestan), Buanajaya B.S (Kong Hu Cu), Romo Teguh (Katolik), Banthe Jayamedho (Buddha) saling bergantian membicarakan pluralisme dalam konteks kepercayaan mereka masing-masing.

Banthe Jayamedho mengungkapkan pluralitas dan kebhinekaan merupakan kodrat dalam kehidupan. Ia menganalogikan hal ini dengan mencontohkan tumbuhan dan hewan yang tidak terdiri dari hanya satu macam jenis, pun manusia memiliki perbedaan masing-masing. Perbedaan ini kemudian menurutnya tak perlu diubah, melainkan justru diperkuat dengan mengusahakan hidup berdampingan secara damai.

“Kita memang tidak sama, tapi kita harus bekerja sama untuk kebahagiaan bersama. Memperkokoh pluralitas di dalam bingkai NKRI itulah yang harus kita pertahankan,” ujar Banthe.

Senada dengan Banthe, Dewa Agung juga menganggap kebhinekaan merupakan kodrat yang menjadi kewajiban dari Sang Maha Kuasa untuk dilaksanakan. Dalam menyikapi perbedaaan yang ada, usaha membangun dialog menurutnya perlu dilakukan untuk menciptakan harmoni. “Tidak ada satupun agama di dunia yang mengajarkan tidak harmonis, yang menyebabkan tidak harmonis adalah interpretasi oknum-oknum yang melakukan kejahatan,” tuturnya.

Marzuki Mustamar menyatakan Islam mengajarkan bahwa kerukunan penting untuk dibina, namun tidak boleh dipaksa. Kerukunan ini akan terbentuk dengan terciptanya rasa saling menghormati dan melindungi antar pemeluk agama mayoritas maupun minoritas. “Indonesia berbeda tapi rukun, kalau di Islam kemaslahatan sebagai muslim bisa menitipkan saudara-saudaramu di Bali, di Jawa akan menjaga teman-teman yang Hindu,” ucapnya.

Acara yang berlangsung di Gedung Widyaloka UB ini diakhiri dengan momen penandatanganan deklarasi kebhinekaan oleh keenam tokoh lintas agama yang hadir. Candra Malik, budayawan senior yang direncanakan menjadi pembicara akhirnya batal hadir. (try/kim/nur)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.