Oleh Rinto Leonardo*

Kamis kemarin (23/11), dilangsungkan Debat Tertutup bakal calon DPM dan EM UB di Gedung Widyaloka. Debat yang berlangsung dari pukul 13.00 WIB sampai dengan 19.30 WIB diikuti dari beberapa perwakilan UKM, LKM, HMJ, DPM Fakultas, BEM Fakultas, dan juga manajer bakal calon. Acara dimulai dengan doa dari panitia kemudian pembukaan dari Ketua Pelaksana PEMIRA UB 2017, kemudian dilanjutkan dengan memaparkan visi misi dari bakal calon DPM. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh perwakilan DPM UB yang sedang menjabat dan oleh masing-masing audiens dengan bakal calon DPM UB, kemudian ditutup dengan closing statement oleh masing-masing calon, begitu pula dalam sesi calon EM UB.

Ada yang menarik dalam debat tertutup kali ini, dimana dalam artian kegiatan debat biasa dikaitkan dengan balas membalas opini yang panas, namun tidak seperti yang diperkirakan, pada acara kali ini, penanya hanya diberikan kesempatan bertanya sekali dan dijawab oleh bakal calon sekali, dan hanya boleh menanya salah satu calon, dimana jika menurut penulis menanyakan salah satu calon saja itu kurang memperlihatkan sisi adil dalam debat dan seakan menyudutkan salah satu pihak, apalagi jika penanya adalah beda golongan dengan calon yang ditanya, dan bagi calon yang tidak ditanya menerima keuntungan lebih. Adapun yang penulis lihat dari pertanyaan 3 panelis perwakilan DPM UB sekarang memiliki ketimpangan dalam pertanyaannya, dimana jika calon yang ditanya adalah berbeda golongan maka pertanyaannya akan sulit dan diluar kemampuan bakal calon, dan jika sama golongan maka pertanyaan yang ditanyakan akan terlihat gampang dan sebenarnya tidak perlu ditanyakan. Dalam debat kali ini pun, ada beberapa kejadian yang unik yang diperlihatkan oleh bakal calon dan oleh penanya, dimana beberapa dari bakal calon ada yang bernyanyi, berpantun, dan melakukan lelucon satir terhadap calon DPM, EM dan yang sudah menjabat yang dihubungkan dengan kondisi UB saat ini.

Dalam debat kali ini terlihat bahwa bakal calon dan penanya saling menunjukkan ego mereka dan memperlihatkan adanya perbedaan pandangan yang kolot, karena adanya perbedaan golongan mereka. Disana terlihat bahwa memang semua orang yang menghadiri acara tersebut membawa kepentingan pribadi dan golongan mereka masing-masing, entah nantinya mereka akan berjuang dan berkomitmen untuk menghilangkan kepentingan itu dan melaju untuk kepentingan bersama, dimana jika penulis melihat dengan realis bahwa akan susah untuk menyatukan kepentingan itu karena setiap orang mempunyai kepentingan masing-masing, dimana jalan keluarnya adalah dengan harmony of interest. Penulis sebagai penanya yang menanyakan kepastian tentang hak UKM sebagaimana UKM adalah organisasi dalam kampus yang otonom, merasakan bahwa jawaban yang diberikan calon pun terkesan abstrak dan normatif, tanpa adanya jawab konkret yang dapat diterima dan dipercaya akan dilakukan oleh bakal calon, sampai pada ada beberapa bakal calon yang menjawab pertanyaan dari penanya lain terkesan utopis.

Di luar jadwal yang terkesan molor, ada beberapa calon juga yang terlambat datang ke dalam debat tertutup ini dengan membawa berbagai alasan yang entah itu benar atau tidak, namun bukan itu yang perlu dilihat, tapi bagaimana para calon bisa menjelaskan dengan pasti apa yang mereka ingin lakukan dan mereka mau berkomitmen dengan itu, dimana nantinya jika sudah terpilih akankah para calon memperjuangkan mahasiswa UB dengan segala visi misi mereka yang kebanyakan sama. Apakah nantinya bakal calon jika terpilih akan memihak kepada mahasiswa atau kepada kepentingan golongan dan pribadi mereka? Apakah nantinya jika mereka terpilih akan menepati janji manis mereka, atau hanya sebatas peran mereka di perhelatan besar kampus ini? Dan seribu pertanyaan lainnya yang masih belum bisa dipastikan, hanya komitmen merea dan waktu lah yang akan menjawab. Dan semoga saja janji tersebut tercapai tanpa adanya batasan oleh golongan agar terwujud yang namanya “SATU BRAWIJAYA”.

*Mahasiswa UB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.