Suasana pertandingan Final Futsal Putra Olimpiade Brawijaya 2017 antara FEB dan FT di GOR Pertamina kemarin (12/10). Foto: Oky
Suasana pertandingan Final Futsal Putra Olimpiade Brawijaya 2017 antara FEB dan FT di GOR Pertamina kemarin (12/10). Foto: Oky

MALANG-KAV.10 Laga pamungkas Olimpiade Brawijaya (OB) 2017 cabang olahraga futsal putra yang berlangsung di GOR Pertamina UB kemarin (12/10), sempat dihentikan sejenak di tengah pertandingan. Panasnya rivalitas suporter kedua kubu yang bertanding, FEB dan FT, memaksa panitia menghentikan pertandingan selama sekitar 30 menit. Pertandingan dihentikan akibat ada provokasi yang berujung saling ejek lewat jargon oleh masing-masing suporter.

Salah satu suporter FT, Hilmi menyayangkan kubunya yang sempat melakukan provokasi. “Tadi ada kata-kataan, kata yang kurang baik ke arah lawan, jadi kena Surat Peringatan (SP) 3 suporter Teknik harus keluar. Saya harap bisa lebih sportif lagi suporternya,” ujarnya.

Wakil Ketua Pelaksana OB, Brein Sihotang menyatakan tak hanya kubu FT yang hari itu diganjar SP, suporter FEB pun mendapat hukuman serupa. “Keduanya membentuk provokasi sebenarnya antara suporter FEB dan Teknik, yang kami rasa itu tidak boleh dilakukan, sehingga kami tegas suporter FEB kena SP 1 dan SP 3 untuk suporter Teknik,” ungkapnya.

Akibat dari SP ketiga untuk FT sesuai peraturan OB maka suporter FT harus keluar dari tribun, namun panitia sempat kesulitan mengondisikan hal ini. “Suporter Teknik kan sudah disuruh keluar, tiba-tiba kok masih di dalam,” terang Ketua Panitia Keamanan, Ari.

Menurut pengamatan awak Kavling10, hanya sekitar separuh suporter FT yang bersedia keluar, itupun akhirnya banyak yang masuk kembali ke tribun untuk mendukung kontingen mereka. Dampak keributan ini membuat beberapa mahasiswa fakultas lain yang berniat menonton pertandingan merasa dirugikan karena tidak diperbolehkan masuk.

“Gara-gara setahu saya Teknik itu kena SP 3. Hari ini Teknik harusnya berlaga tanpa suporter tapi nggak tahu mungkin panitia kurang tegas, kenapa Teknik itu bisa masuk. Saya netral padahal,” ujar mahasiswa FISIP 2015, Rifky, yang sempat dilarang masuk GOR.

Menurut cerita Brein, Wakil Rektor III Arief Prajitno yang juga hadir dan menyaksikan kericuhan yang terjadi sempat mengancam tahun depan OB tidak akan digelar lagi. “OB ini ajang olahraga yang bergengsi menyatukan mahasiswa, namun Pak Ayik tadi sedikit geram. Mengancam juga kalau tidak bisa kondusif, dipertimbangkan tidak usah ada OB lagi,” tutur mahasiswa FPIK angkatan 2015 ini. Laga final ini akhirnya dimenangkan FEB dengan skor 2-0. (odp/nur)

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.