Spanduk Larangan Transportasi Online Masuk Kampus di depan Gerbang Veteran UB (28/9). Foto: Nuril
Spanduk Larangan Transportasi Online Masuk Kampus di depan Gerbang Veteran UB (28/9). Foto: Nuril

MALANG-KAV.10 Hari ini (28/9) UB mulai berlakukan kebijakan larangan masuk kampus bagi semua jenis kendaraan berbasis online (daring). Kepala Regu MAKO UB Anang Faisol mengungkapkan persoalan keamanan menjadi salah satu alasan dibalik kebijakan ini. “Karena kan terlalu banyak yang masuk ke dalam dan dari sisi keamanan itu beresiko,” ujarnya.

Selain dilatarbelakangi banyaknya kasus kehilangan kendaraan di dalam kampus, Anang mengaku pihaknya juga kesulitan dalam mengatur keberadaan ojek online yang memasuki kawasan UB. ”Ngetemnya itu lho mereka sembarangan dan jumlahnya banyak. Mereka juga sulit diatur, kalau mengambil penumpang juga seenaknya,” keluhnya.

Anang menyebut kebijakan ini tidak ada hubungannya dengan protes terhadap keberadaan transportasi online yang semakin marak akhir-akhir ini. “Tidak ada hubungannya, ini murni kebijakan dari UB sini. Tidak terpengaruh dari yang diluar itu,” tegasnya.

Ketika ditanya soal nasib mahasiswa UB yang juga merangkap menjadi pengemudi ojek online, ia mengaku belum ada aturan pasti. “Mungkin dikasih stiker atau id card khusus. Nantinya akan diatur itu, besok mungkin. Besok itu akan ada rapat koordinasi, semua diundang,” pungkasnya.

Salah satu pengemudi ojek online, Yusuf mengungkapkan ia tidak sepakat dengan kebijakan tersebut karena menurutnya bukan cuma driver yang akan dirugikan namun pengguna layanan ini juga. “Sangat nggak setuju, soalnya rata-rata penumpang pagi nganter ke UB, sedangkan penumpang dianter cuma sampai gerbang pasti nggak mau soalnya UB kan lebar. Siang hari dosen UB juga sering go food, masa iya dosen disuruh jemput makanan di gerbang,” ujarnya.

Namun ia memaklumi sikap kampus, sebab menurutnya para pengemudi ojek online memang sering terlihat mangkal di dalam UB. “Teman-teman driver memang sering ngetem di dalam. Tapi sebaiknya bukan larangan masuk, tapi larangan ngetem di dalam,” tambahnya.

Salah satu mahasiswa pengguna layanan ojek online, Kristina Dwi mengungkapkan ia tidak setuju karena menurutnya akan merepotkan sebab area UB terlampau luas. “Menemui di luar kampus kan ribet juga karena ada perang dingin dengan angkutan umum,” tutur mahasiswa Antropologi angkatan 2016 ini.

Menurut pantauan awak Kavling10, di hari pertama kebijakan ini diberlakukan para pengemudi transportasi online masih terlihat di beberapa sudut kampus. (nzf/nur)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.