Oleh: Saadillah Nur Fahmi

_20170701_052315

Judul buku      : Perempuan di Titik Nol (Terjemahan)

Pengarang       : Nawal el-Saadawi

Penerbit           : Yayasan Obor Indonesia

Tahun Terbit  : 2003

Isi                      : 156 halaman

 

Lewat tangan Nawal el-Saadawi, metafora perjuangan kaum wanita merebut kebebasan digambarkan dalam buku ini. Penulis adalah novelis yang juga dokter asal Mesir yang vokal menyuarakan hak-hak wanita. Lewat tokoh utama bernama Firdaus, ia mencoba membawa pembaca untuk ikut menyelami pergulatan derita dan konflik yang terus dialami sang tokoh utama sejak usia belia.

Firdaus diceritakan sebagai tahanan wanita yang divonis hukuman mati atas kasus pembunuhan. Ia kukuh menolak semua pengunjung, berbicara dengan siapapun, bahkan menolak menandatangani permohonan kepada presiden agar merubah hukumannya menjadi hukuman badan seumur hidup.

Lahir dari keluarga petani miskin, banyak saudara laki-laki dan perempuannya mati akibat penyakit. Kelamnya kisah hidup Firdaus mulai tampak ketika Firdaus kecil bermain sebuah permainan pengantin perempuan dan pengantin laki-Iaki dengan teman kecilnya Muhammadain, dimana Firdaus kecil merasakan “sensasi nikmat luar biasa”.  Lalu ketika bahkan belum menjadi siswa sekolah menengah, ia mesti menderita akibat perbuatan bejat pamannya. Hal ini kemudian menjadi pengalaman hidup yang membentuk karakter dan sifatnya kelak.

Ketika tamat dari sekolah menengah, ia pun harus rela dijual oleh pamannya sendiri untuk menjadi istri seorang bernama Syekh Mahmoud, pria berusia 46 tahun, terpaut 27 tahun dari usia Firdaus kala itu. Kehidupan rumah tangganya penuh dengan kekerasan. Lepas dari hubungan pernikahannya, Firdaus justru terjebak dalam pekerjaan yang mengharuskannya melayani nafsu birahi para lelaki.

Sepanjang buku yang hanya terdiri dari 156 halaman ini, cara penulis menempatkan posisi Firdaus sebagai perempuan yang terhormat bukan karena caranya tunduk kepada lelaki melainkan dengan membuatnya memiliki kebebasan atas dirinya merupakan hal yang mungkin masih sulit untuk diterima masyarakat. Sebuah pesan untuk perempuan sekaligus pukulan telak bagi para lelaki. Kata-kata yang tertulis dengan jelas mengancam dengan keras kepada seluruh lelaki. “Saya mengatakan bahwa kamu semua adalah penjahat, kamu semua: para bapak, paman, suami, germo, pengacara, dokter, wartawan, dan semua lelaki dari semua profesi”.

Perempuan di Titik Nol akan mengantarkan pembaca dalam kesedihan dan kesengsaraan yang dialami oleh Firdaus. Nawal el-Saadawi menggambarkan ketidakadilan yang dialami wanita di Mesir dengan menuliskan “Firdaus adalah kisah seorang wanita yang telah didorong oleh rasa putus asa ke pojok yang paling kelam. Wanita ini, sekalipun muak dan putus asa, telah menghidupkan dalam hati mereka yang seperti saya sendiri, menjadi saksi saat-saat akhir hidupnya, suatu kebutuhan untuk menantang dan melawan kekuatan-kekuatan tertentu yang telah merampas hak manusia untuk hidup, untuk bercinta dan menikmati kebebasan yang nyata”.

Barangkali tidak hanya di Mesir, di Indonesia bahkan kondisinya belum tentu lebih baik jika menyangkut soal hak perempuan. Mengingat apa yang disampaikan oleh Firdaus tentang para penguasa dan lelaki revolusioner yang menjadi pemimpin. “Lelaki revolusioner yang berpegang pada prinsip sebenarnya tidak banyak berbeda dari lelaki lainnya. Mereka mempergunakan kepintaran mereka, dengan menukarkan prinsip mereka untuk mendapatkan apa yang dapat dibeli orang lain dengan uang. Revolusi bagi mereka tak ubahnya sebagai seks bagi kami. Sesuatu yang disalahgunakan. Sesuatu yang dapat dijual.”

Sudah seharusnya kalimat-kalimat tersebut menjadi bahan refleksi bagi kita semua.

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.