oleh Asry P. Sihombing*

Media sosial menjadi dunia baru bagi generasi masa kini. APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) mengungkapkan bahwa ada sebanyak 132,7 juta pengguna media sosial atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia yang sebesar 256,2 juta. Angka yang besar untuk sebuah negara berkembang.

Dengan media sosial, sangat mudah menjadi seseorang yang kita mau, meski bukan berarti kita yang sebenarnya. Media sosial menjadi dunia baru yang diciptakan oleh tiap-tiap orang. Bisa bertemu siapa saja, berbicara apa saja, dan bahkan menjadi siapa saja, kalian bisa disana. Sangat mudah untuk terlihat pintar di media sosial. Bagikan foto buku-bukumu yang tersusun rapi di rak gantung kamar, foto buku dan kopi ala Instagram, atau menuliskan kalimat bijak dari tokoh besar, juga kutipan dari buku terkenal. Mudah bukan? Ya begitu, Kalau dulu mahasiswa memahami Dunia Sophie, kini yang mereka hafal hanya dunia maya.

Kemudahan dan kebebasan yang ditawarkan media sosial terkadang melenceng dari tujuan awalnya yang positif. Curhat atau sekadar membagikan pikiran berdampak sakit hati pihak lain. Sindir-menyindir menjadi hal biasa disana. Bahkan, ada doa dipanjatkan entah kepada Tuhan yang mana. Bagian paling menyedihkan dari penyalahgunaan media sosial ini adalah adanya orang-orang yang berupaya mengkritik tidak pada wadah yang tepat. Opini tidak berlandaskan data tersebar dimana-mana, mudah dan cepat. Propaganda  yang memecah tersebar secara luas, dan dipercaya.

Ditengah mudahnya pembuatan media sosial, dan banyaknya pasar penggunanya, media sosial menjadi jalan yang cukup mulus untuk menegakkan kepentingan. Entah itu perorangan, atau bahkan sebuah kelompok. Tidak salah memang. Kami juga memilikinya, jika kau ingin tahu. Disatu sisi, hal ini hanyalah pemanfaatan semaksimal mungkin fasilitas yang ditawarkan oleh jagad dunia maya. Yang harus menjadi pintar adalah pembaca.

Sebagai pegiat karya jurnalistik, kadang kami merasa sedih. Bagaimana tidak? Pada waktu tertentu, kami merasa kalah populer dari akun-akun atau bahkan situs-situs online yang isinya pembahasan propaganda, hoax, atau bahkan ujaran kebencian. Kami menyadari betul hal seperti yang telah disebutkan adalah sesuatu yang seru untuk dibincangkan. Membacanya juga tidak membuat kepala pusing. Kalau boleh mengutip kata-kata kekinian, maka kami akan berkata, “kami mah apa atuh.”

Ditengah rasa pesimis yang menggerogoti, kami kemudian menyadari bahwa apa yang kami lakukan adalah bentuk nyata pengamalan demokrasi. Data dan perifikasi yang tidak mudah terus akan kami lakukan. Menjadi anggota pers mahasiswa juga berarti menjadi pilar ke-4 Demokrasi, meski dalam lingkup yang lebih kecil yaitu universitas. Kami pula berbangga hati ketika kami menyadari bahwa kami dicintai oleh Pram dan orang yang sepemikiran dengannya. Katanya, suara kami takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, sampai kemudian hari. Maka, meski kau tidak baca, kami percaya akan ada saja yang mencarinya. Maka, kami akan tetap menulis. Tetap bekerja untuk kebenaran. Karena, tidak ada berita yang tidak dapat dikabarkan!

*Pemimpin Umum UAPKM UB 2017/2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.