Oleh Efrem Siregar*

Saya cukup beruntung dapat menyaksikan langsung raut-raut wajah mahasiswa baru dalam kurun waktu empat tahun belakangan. Rona yang beragam, sebagian menunjukkan kelesuan, ada yang memberi senyum, ada yang menaruh sinis, dan ada juga tertawa selepas rangkaian PKKMABA.

Saya juga tidak menyangka bahwa di balik amuk dan garang yang ditampilkan panitia, dalam beberapa situasi mereka mampu bersenda gurau dan bercerita hal yang menyenangkan. Ada kalanya terselip wajah normal kehidupan kampus di tengah rangkaian PKKMABA.

Memang, selepas rangkaian pengenalan ini, mahasiswa baru akan berbaur dengan mahasiswa lain, pengajar, dan seluruh warga Universitas Brawijaya. Sewajarnya dalam ranah akademis tidak ada istilah mahasiswa baru. Toh, semua sivitas akademika berada sejajar untuk mengembangkan cakrawala pengetahuan.

Atau pahit-pahitnya, barangkali sekitar satu-dua semester suasana berbeda dari biasanya. Masih ada rangkaian penyambutan yang harus dipatuhi mahasiswa (lama) dan mahasiswa baru. Mungkin juga dalam kurun waktu tersebut suasana mulai mencair, menjadi tidak ada sekat-sekat per angkatan.

Di luar perkuliahan, akan ada diskusi, kegiatan organisasi, kepanitiaan, dan tugas ilmiah lainnya. Segala ketentuan akademik yang disampaikan dalam materi PKKMABA hanyalah hal biasa. Jika lupa, bukalah buku pedoman akademik. Selesai urusan.

Yang menjadi perhatian dan perlu penalaran kritis adalah wacana yang menghembus ranah akademis. Jika dibilang berbau politik, memang demikian adanya. Apalagi PKKMABA kali ini masih berada dalam suasana kemerdekaan.

Kampus tidak dapat dilepas dari persoalan semacam ini. Ditambah lagi kecerobohan negara Malaysia yang membalikkan bendera Merah Putih dalam perhelatan SEA Games dua hari lalu. Di titik inilah nadi-nadi nasionalisme diajak untuk berdenyut kencang.

Tapi awas kebablasan. Kita tahu, jauh sebelum PKKMABA, Presiden Joko Widodo sudah mengingatkan semua untuk memahami batas berdemokrasi. Berpendapat, berkegiatan, dan bertindak juga harus memperhatikan kebebasan yang dimiliki orang lain.

Kita tidak dapat memungkiri keadaan bahwa sebagian di antara sivitas akademika kurang menikmati nasionalisme yang ada, yang tidak mendapat kesempatan untuk menyampaikan suara. Mereka adalah orang-orang asing di kampus ini.

Orang-orang yang tidak sekadar melawan arus, tetapi memang merasa aneh dengan suasana yang ada saat ini. Dapat juga kita temui model-model pengasingan yang mewujud dalam bentrokan bahkan sampai menghujat dan merendahkan satu sama lain. Hal yang tentunya tidak mungkin diceritakan di atas mimbar selama PKKMABA.

Kita tidak menginginkan bahwa suasana seperti ini yang bertumbuh di ruang akademis. Pembungkaman yang samar-samar. Ambil contoh sederhana, semisalnya jargon Enterpreneur University akan mengasingkan mahasiswa-mahasiswa lain yang menempuh jalan berbeda. Atau hal-hal lain yang pada intinya adalah pilihan setiap sivitas akademika.

Saya mendekati fenomena ini pada pemikiran Hannah Arendt, filsuf sekaligus penulis, agar kita tidak bertindak atas dasar ketidakpahaman atau prasangka yang justru akan memperkuat dikotomi antara yang kuat dan dominan di satu sisi dengan yang lemah dan terdeterminasi di sisi lain.

Pemikiran Arendt sendiri tidak dapat dilepaskan dari keterasingan yang diterimanya. Ia terlahir sebagai seorang Yahudi, kaum yang amat dibenci semasa Nazi berkuasa di Jerman. Tatkala Nazi semakin gencar ‘membersihkan’ komunitas Yahudi, ia pun mengungsi ke Amerika.

Namun, Arendt tidak lantas menyimpannya sebagai dendam yang harus dibalaskan. Malahan yang terjadi adalah sebaliknya. Dalam laporan Eichmann in Jerusalem pada New York Times, ia menyalahkan para pemimpin Yahudi yang diam ketika Nazi melancarkan Genosida, yang sibuk untuk membentuk negara Israel. Laporan inilah yang membuatnya dibenci oleh komunitas Yahudi dan teman-temannya.

Pengadilan terhadap Eichmann tidak akan mengubah sejarah itu sendiri. Eichmann yang telah melakukan tindakan ‘iblis’ justru terlihat tenang di hadapan pengadilan tanpa menunjukkan perasaan bersalah. Bagi Arendt, Eichmann dan orang Nazi lainnya bukanlah orang bodoh sebab mereka melakukan semua kejahatan itu sebagai rutinitas.

Dari sinilah Arendt lalu menyimpulkan ketidakberpikiran atau absennya pikiran (Gedankenlosigkeit) mampu merubah seseorang menjadi monster. Banalitas dapat menjangkit selama ia tidak mempunyai imajinasi. Orang cerdas dan terdidik sekalipun dapat menjadi banal selama pikirannya telah dibengkokkan oleh sistem dan common sense.

Jika direfleksikan, fenomena lama ini dapat ditemukan dalam wajah-wajah baru modernisme sekarang. Semoga saja setelah PKKMABA hari ini, keadaan yang demikian tidak menjangkit para sivitas akademika. Kita tidak menjadi orang-orang yang miskin imajinasi, merasa hampa tanpa perintah, tidak menjadi orang-orang mimesis yang hanya meniru sistem, yang senang ketika menghujat orang-orang yang berbeda, atau yang mencintai satu sosok atau pandangan secara membabi buta.

Jadilah mahasiswa yang mencintai kebebasan berpikir dan berpendapat, bukan kebebasan elitis. Lakukanlah secara diam-diam tanpa seorangpun mengetahuinya.

*Awak Kavling 10 2012

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.