oleh M. Nuris Hisyam Ramadhani*

Perahu yang mengantarkan generasi baru akhirnya sampai di gerbang pamungkas. Rangkaian ospek selama tiga hari akhirnya segera selesai. Catatan-catatan tentang kemeriahan dan kebanggaan menyalami di buritan. Meski beberapa fakultas barangkali masih akan melangsungkan kegiatan ospek lanjutan tiap minggu. Kesimpulannya barangkali perlu pembaca nilai sendiri, apakah proses pendidikan instan semacam ini masih relevan dan efektif untuk membentuk karakter dan mengenalkan Maba pada kampusnya.

Persoalan-persoalan lama masih terulang kembali dalam ospek tahun ini. Masih banyak fakultas yang seakan paranoid terhadap keberadaan pers. Akses terhadap informasi dikekang sedemikian rupa demi menjaga citra dirinya. Padahal fungsi pengawasan mestinya harus dihargai sebab berhubungan dengan hak masyarakat luas untuk mengetahui tentang pelaksanaan ospek tersebut. Jika tak ada yang salah di dalam, kenapa harus takut dikabarkan. Tentu apresiasi patut ditujukan pada tiap fakultas yang telah terbuka dalam memberi akses informasi, bahkan mengirim panitia untuk mengakomodasi kebutuhan wartawan di lapangan.

Dalam hal penerimaan informasi pun perlu menjadi catatan khusus sebab pertarungan antara oknum-oknum berkepentingan dan pembagi selebaran (yang juga berkepentingan) masih menjadi pemandangan lazim dalam gelaran ospek tahun ini. Harusnya biarkan saja para Maba menentukan sendiri pilihannya mana yang ingin diterima dan tidak, toh mereka sudah dewasa.

Jika Maba yang berada di hari pamungkas ini cenderung lega, beberapa mahasiswa lain justru dirundung gelisah. Semester baru akan dimulai. Mahasiswa semester tua ditekan bermacam-macam persoalan yang salah satunya yakni tuntutan untuk segera lulus. Dulu sempat keluar Permendikbud No.49 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang membatasi masa studi maksimal bagi strata 1 dan diploma 4 selama lima tahun―yang akhirnya dikembalikan menjadi tujuh tahun. Kini pun banyak mahasiswa semester tua masih bertengger di kampus hingga tahun ke tujuh.

Kebijakan penurunan UKT Semester 9 juga belum lama keluar, dimana tak semua fakultas menerima begitu saja tuntutan yang diajukan mahasiswa. Beberapa menganggap jika UKT mahasiswa semester tua diturunkan justru mengurangi motivasi mereka untuk segera menuntaskan studi dan angkat kaki.

Diantara mahasiswa semester tua yang tak kunjung lulus macam-macam jenisnya. Ada yang terlalu sibuk turun ke masyarakat, ada yang sibuk menata gerak organisasinya, ada yang kesulitan biaya, yang tidak kemana-mana, atau bahkan yang memang kurang mujur sehingga lulus lama. Pesan bagi para Maba, jangan sampai ketakutan lulus lama membatasi ruang gerakmu untuk berkarya. Ibaratkan kampus seakan laboratorium raksasa dimana kalian bisa menjajal segala pilihan. Selamat berproses!

*Pemimpin Redaksi 2017/2018 UAPKM UB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.