MALANG-KAV.10 Aksi Brawijaya Menggugat sebagai peringatan Hari Pendidikan Nasional di Universitas Brawijaya diramaikan kehadiran beberapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sepuluh orang yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Gondrong UMM datang ke UB kemarin (2/5), sebagai bentuk solidaritas terhadap mahasiswa UB.

Aliansi Mahasiswa Gondrong UMM ini mengikuti aksi hingga selesai. Perwakilan aliansi juga sempat melakukan orasi di hadapan massa. Lewat orasinya, Koordinator Aliansi Mahasiswa Gondrong UMM Asep menyatakan kepeduliannya terhadap keadilan di dalam kampus dan peran mahasiswa untuk menjaganya. “Kita sama-sama mahasiswa, hanya beda almamater saja, tapi fungsi kita sama kan sebagai agen perubahan,” ungkap Asep saat wawancara dengan awak Kavling 10.

Fauzi, anggota Aliansi yang ikut aksi menjelaskan jika ia tertarik ikut setelah mengetahui aksi dari media sosial. Selanjutnya ia melakukan komunikasi dengan penyelenggara aksi di UB. “Kalo ngomong masalah untung rugi. Oke lah, ini sebagai pembelajaran untuk kita, supaya kita lakukan di UMM. Tapi kita datang bukan ngomong untung rugi, kita sama-sama mahasiswa di sini,” ujar mahasiswa angkatan 2013 tersebut.

Asep juga menegaskan kedatangan mereka pada aksi Brawijaya Menggugat murni sebagai bentuk solidaritas sesama mahasiswa. “Kita tidak terkait dan tidak ada janji politik atau misalkan minta timbal balik,” ungkapnya. Letak UB dan UMM yang sama-sama berada di Kota Malang turut menjadi pertimbangan mereka turun aksi. “Kita tahu UB masalahnya begini, ya kita ikut bantu aja, apalagi masalah UB dan UMM hampir sama”, kata Asep menambahkan. Asep menilai di UMM saat ini masih bermasalah soal transparansi dana.

Menteri Kebijakan Kampus EM UB Lambang Aji mengaku tidak mengundang secara resmi mahasiswa dari kampus lain. “Saya baru tahu juga. Tidak ada undangan dari kami untuk kampus lain,” ujar Aji.

Hari ini (3/5), awak Kavling10 mendapatkan informasi bahwa Aliansi Gondrong UMM menggalang aksi di UMM  terkait diskriminasi dan intimidasi terhadap mahasiswa gondrong. Menurut Fauzi yang kami hubungi melalui pesan singkat mengungkapkan tuntutan pokok aksi hari ini adalah untuk menghapus kebijakan larangan gondrong. “Salah satu bentuk diskriminasi secara tertulis tidak bisa mengakses fasilitas perpustakaan apabila rambut gondrong,” tutur Fauzi. Mahasiswa yang berambut gondrong pun menurut Fauzi tidak dibolehkan mengikuti ujian. (ram/jef/gph)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.