Anggur Merah, Kiat NTT Bangun Perekonomian

0
2
Gubernur NTT Frans Lebu Raya saat mengisi Kuliah Tamu “Pembangunan Ekonomi Kerakyatan di Era Pasar Bebas” di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya (26/5). Foto: Khoyrudin
Gubernur NTT Frans Lebu Raya saat mengisi Kuliah Tamu “Pembangunan Ekonomi Kerakyatan di Era Pasar Bebas” di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya (26/5). Foto: Khoyrudin

MALANG-KAV.10 “NTT itu Nusa Tenggara Timur, tapi suka dipelintirkan NTT itu nasib tidak tentu,” canda Gubernur NTT Frans Lebu Raya saat mengisi Kuliah Tamu “Pembangunan Ekonomi Kerakyatan di Era Pasar Bebas” di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, kemarin (26/05). Frans menyesalkan adanya anggapan tentang NTT yang selalu disebut miskin, tertinggal dan terbelakang. Demi menghapus stigma negatif semacam itu, Frans mencetuskan kebijakan Program Desa Mandiri “Anggur Merah” (Anggaran untuk Rakyat Menuju Sejahtera).

Pada prinsipnya program Anggur Merah yang telah berjalan selama enam tahun ini berbentuk dana hibah bergulir. Frans menuturkan dana tersebut harus dikelola dengan baik oleh masyarakat dan tak hanya dana yang harus terus bergulir, namun unit usaha milik warga harus terus berjalan. “Kadang-kadang kan kalau sebelumnya, dana atau bantuan itu diterima setelah itu selesai. Agar usaha terus jalan, kami mengajak kalangan perbankan juga untuk melakukan pendampingan sampai usahanya bankable,” tutur gubernur yang akan habis masa jabatannya pada 2018 ini.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah NTT, Wayan Darmawa menjelaskan Program Desa Mandiri Anggur Merah menggunakan model pendekatan investasi berupa hibah Pemerintah Provinsi (Pemprov) kepada desa. Alokasi dana sejumlah 250 juta per desa disalurkan sebagai penyertaan modal bagi koperasi, sehingga bagi desa yang belum memiliki koperasi diwajibkan segera membentuknya. Daripada istilah dana bergulir, Wayan cenderung menyebut dana hibah tersebut sebagai modal pinjaman bagi masyarakat untuk mengembangkan ekonomi produktif. “Bunganya itu yang disesuaikan dengan kemampuan masyarakat. Hasilnya akan menjadi aset pemerintah desa,” ujar Wayan.

Untuk mengawal sistem ini, ditunjuk pendamping usaha yang awalnya berjumlah 1000 orang namun kini dipangkas menjadi sejumlah 700 orang. Pendamping bertugas mendampingi proses administrasi dan memberi wawasan pada warga, sedangkan pilihan tetap ada di tangan masyarakat sebagai pelaku usaha. “Jadi ide-ide usaha pure dari masyarakat,” ungkap Wayan. Bidang peternakan menjadi bentuk usaha yang dominan digeluti warga selain bidang jasa perdagangan, perikanan, dan pertanian.

Selain mengupas program Anggur Merah, dalam kuliah tamu yang sempat molor sejam dari jadwal semula ini, Frans banyak bercerita seputar strategi pembangunan dan potensi sumberdaya NTT sebagai provinsi kepulauan. Selepas acara usai, para mahasiswa yang rata-rata berasal dari NTT segera mengerubungi sang gubernur dan berebut kesempatan berfoto bersama. (krd/nur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.