MALANG-KAV.10 Pengunjung dibuat terkesan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan untuk mengenalkan sejarah Kerajaan Majapahit dalam Pameran Virtual Museum Brawijaya, Jum’at (25/11) di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya. Mengusung tema pameran virtual, teknologi seperti Realitas Maya (Virtual Reality) dan Realitas Tertambah (Augmented Reality) dihadirkan untuk menampilkan situs peninggalan sejarah ratusan tahun lalu dari Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Raja Brawijaya.

Beberapa peralatan diantaranya melalui peranti khusus berbentuk kacamata yang menghasilkan citra tiga dimensi, memberi sensasi berbeda dengan hanya melihat foto di depan layar komputer. Pengunjung dibuat seakan-akan berdiri tepat di depan Museum Mpu Tantular, dilanjutkan dengan mengunjungi candi-candi yang dibangun era Majapahit. Melalui peranti khusus tersebut, ditampilkan juga video tentang situs peninggalan Kerajaan Majapahit, Candi Trowulan di Mojokerto.

Tetapi masih ada pengunjung yang belum mengerti cara menggunakan peralatan canggih yang dihadirkan, sebab dibiarkan tergeletak begitu saja di atas meja. Yohannes Boatatung, salah satu pengunjung menyampaikan pendapatnya, “Semua informasi yang ada sudah tertulis semua sih, tetapi peralatan yang disini tidak digunakan, apanya darimana gak tahu, terus kita disuruh sendiri gitu,” ujar Yohanes. “Kalau menurut saya, sumber-sumber informasinya sudah ada ya, hanya kurang pemandu kali ya,” tambah Yohannes, yang merupakan mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur dari Fakultas MIPA Program Magister.

Peralatan canggih dalam pameran merupakan cara yang digunakan oleh Pusat Studi Peradaban Universitas Brawijaya  untuk menarik para pengunjung. Rifki Febrianto Supriadi, selaku ketua pelaksana mengatakan, “Sisi tertariknya itu dari virtual, jadi kalau kita hanya workshop Brawijaya, ya paling yang datang cuma anak Brawijaya-Brawijaya saja. Maunya ini bisa dijadikan indikatornya itu virtual, kita ingin buat museum, jadi mengeneralisasikan semua yang ada di museum saat ini.” Pameran Virtual Museum Brawijaya ini sekaligus merupakan hasil publikasi riset dari Pusat Studi Peradaban Universitas Brawijaya. (sad/ain)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.