MALANG-KAV.10 “Di NTT air itu ada, tapi tidak continue karena masih ada daerah yang kering. Perlu disalurkan, perlu energi dan disesuaikan dengan potensi daerah setempat,” ungkap Tunggul Sutan Haji peserta diseminasi dari FTP (Fakultas Teknik Pertanian) dalam Diseminasi Sanitasi Kabupaten Timor Tengah Selatan, Sikka, dan Biak. Diseminasi tersebut berlangsung di Gedung Prof. Dr. Darsono Wisadirana FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Universitas Brawijaya (16/9).

Menurut penelitian Tunggul kesadaran penduduk Papua terhadap sanitasi masih kurang. Ia mencontohkan, sumber mata air semestinya dapat dikelola Badan Perairan Daerah dibawah pemerintah namun di Papua masih dikuasai oleh suku-suku setempat. ”Seperti Danau Sentani, ketika kita ingin mengelola tidak bisa, karena dianggap milik mereka,” ujar Tunggul.

Eva Wishanty dari tim peneliti Laboratorium Program Studi Hubungan Internasional (HI) mengungkapkan debit air di beberapa daerah NTT (Nusa Tenggara Timur) masih rendah sehingga tidak mampu mencukupi. Sementara pada saat yang sama, kesulitan pengelolaan sumber mata air oleh pemerintah, disebabkan penduduk setempat masih meyakini kekuatan roh alam yang menjaga sumber-sumber mata air.

Eva mengatakan jika kondisi geografis juga ikut menjadi kendala. Pemukiman berjarak sangat jauh karena terpisah oleh pegunungan. Warga di NTT sempat terbantu dengan adanya LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) internasional diasana yang menggagas teknologi pengadaan air. Namun tidak adanya biaya perawatan, membuat teknologi yang diciptakan sia-sia. “Biaya perawatan tidak ada, mereka masih sering membawa jerigen besar untuk mencari air. Mereka juga mempunyai solar cell. Namun ketika rusak tidak ada perbaikan, tidak ada tukang service disana, mereka juga tidak paham,” jelasnya.

Rekan satu tim Eva, Anggun Trisnanto mengungkapkan bahwa di NTT air memang menjadi masalah tetapi bukan yang utama. “Yang kami temukan dan rasakan mereka butuh supply air tapi kecil,” ungkap Anggun. Penyebabnya masih ada masalah lain yang menjadi fokus seperti kemiskinan, kesehatan layanan publik, dan pendidikan.

Diseminasi ini merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan LSM Belanda, SIMAVI (Steun in Medische Angelegenheden Voor Inheemsen/ Organisasi Peduli Kesehatan bagi Pribumi) dan Laboratorium HI FISIP UB. Pada tahun 2010-2015, SIMAVI telah mengadakan penelitian melalui program SHAW (Sanitation Hygiene and Water). Kini program tersebut dilanjutkan melalui program SEHATI (Sustainable Sanitation for East Indonesia). Program SHAW menjalankan lima pilar strategi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) pemerintah Indonesia untuk Indonesia bagian Timur. (jon/sin/dan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.