MALANG-KAV.10 Reza Adi Pratama, Presiden EM UB 2015-2016 menempuh jalan baru sebagai seorang wirausahawan. Meski pendapatan hasil dagangan cenderung fluktuatif, dirinya tetap melanjutkan usaha roti bakarnya.

Mengusung nama “Grab ‘n Go”, usaha ini dirintisnya sejak Februari lalu. Reza memilih konsep Truck Food, lalu menjual roti bakar berbagai variasi, teh dan coklat. Pembeli cukup membeli dan membawa pulang. Dia memperuntukkan jajanannya kepada kalangan mahasiswa.

“Mahasiswa inginnya jajanan yang sekali beli dan sekali kenyang,” ujarnya saat ditemui di Brawijaya Market Festival, Jumat (3/6). Meski begitu, para pembeli banyak dari masyarakat umum, terutama anak-anak yang menyukai jajanannya.

Dalam sebulan, dia meraup rata-rata 400-500 ribu rupiah selama dua belas jam bekerja. Angka itu turun saat dia melakukan penelitian di Desa Oro-Oro Ombo Batu. Selama meneliti, kios penjualannya hanya buka enam jam. “Hanya mendapat 200-300 ribu rupiah,” terangnya. “Idealnya, pemasukan rata-rata 400-500 ribu rupiah.”

Reza memang menaruh besar perhatian kepada dunia wirausaha, bahkan sudah meletakkan cita-citanya kelak sebagai wirausahawan sejak Sekolah Menengah Atas (SMA). Sewaktu menjabat  Presiden EM, kabinetnya saat itu memasukkan beberapa agenda kerja seperti Pasar Brawijaya. Mahasiswa diberi tempat untuk meniagakan usahaya. Ditambah lagi, UB sendiri telah mengusung jargon sebagai kampus enterpreuner.

“Setelah lebaran, saya akan all out untuk menjalankan usaha ini. Bulan Ramadhan nanti, saya juga membantu orang tua yang juga membuka sebuah usaha,” katanya. Reza selama ini mengandalkan sosial media dalam mempromosikan usahanya.

Langkah Beda

Bagi seorang mahasiswa organisasi yang jabatannya telah berakhir, apalagi dalam Lembaga Kedaulatan Mahasiswa, menjadi seorang wirausahawan merupakan langkah lanjutan yang berbeda. Umumnya, para mahasiswa tersebut akan mendapat tawaran dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sampai partai politik sekalipun.

Reza sendiri pun mengakui telah mendapat penawaran dari salah satu partai. Namun, dirinya mengatakan masih tetap berfokus dalam mengembangkan usaha yang dijalankannya saat ini. Reza juga memberi target untuk menyelesaikan masa studinya. Bulan ini, dia akan melewatkan ujian komprehensif sebagai salah satu syarat kelulusan.

“Kalau ingin terlibat dalam kegiatan sosial, saya masih ingin. Namun butuh dana besar untuk itu. Namanya kan pengabdian, jangan sampai kegiatan sosial dijadikan untuk mendapat banyak pemasukan,” terangnya. Sebelum terlibat langsung dalam aktifitas sosial masyarakat, Reza menilai setiap orang yang akan terlibat di dalamnya sudah memiliki bekal yang cukup.

Dalam penelitiannya “Alih Profesi Petani Akibat Perkembangan Pariwisata”, dia mendapatkan sebagian besar masyarakat Desa Oro-Oro Ombo mengganti lahan pertaniannya sebagai home stay. Bagi masyarakat sendiri, pendapatan yang diterima setelah mendirikan home stay lebih tinggi dibanding sebagai petani.

“Ini akan menajdi masalah, lahan pertanian sempit. Sekarang saja, kita beras masih impor. Akan masalah karena kita kekurangan pangan,” jelasnya. Dia menambahkan, seharusnya pemerintah turun tangan dengan berbagai kebijakan. “Wewenang itu ternyata tidak ada pada pemerintah desa, tetapi pada Pemerintah Kota. Desa Oro-Oro Ombo pun ternyata sudah ditargetkan sebagai daerah wisata.” (eff/bun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.