MALANG-KAV.10 Mahasiswa Vokasi UB mempertanyakan status Ketua Program Vokasi Muhammad Munir yang juga merangkap sebagai staff Dikti. Pasalnya memangku dua peran jabatan sekaligus dinilai urgen dan dapat berdampak pada tidak terfokusnya kepengurusan  disalah satu lembaga. Hal tersebut diungkapkan oleh Sekertaris Jendral Vokasi UB Intan Dita dalam audiensi tentang kejelasan vokasi, Selasa (10/5).

Ditanya soal dualisme jabatan tersebut, Munir memaparkan bahwa tugasnya sebagai staff Dikti merupakan tugas struktural sehingga tidak setiap saat harus bertugas menangani hal-hal terkait jabatannya selaku staff di sana.

Munir juga menyatakan kesediannya mundur dari Dikti jika memang situasinya memungkinkan, “Kalau anak-anak saya di vokasi itu menyeru pada saya ‘Pak mundur saja!’, mundur saya demi vokasi!” ujarnya di tengah-tengah audiensi. Munir mengaku pernah ditawari oleh salah satu pejabat di Jakarta untuk menjadi pejabat universitas swasta di Jawa Timur. Ia menolak iming-iming mobil dinas, rumah mewah, dan gaji tinggi yang ditawarkan pejabat tersebut. “Saya lebih tertarik bagaimana membesarkan vokasi ini,” ungkap Munir.

Menanggapi hal itu Rektor UB Muhammad Bisri menghimbau agar komunikasi antara mahasiswa vokasi dan Munir tetap terjalin secara terus menerus. “Saya kira nanti harapan saya Pak Munir sudah lebih siap untuk terus menerus sharing dengan adik-adik sekalian. Kapan ada waktu lagi, sharing.  Karena pada hakikatnya, fakultas vokasi, fakultas a,b,c, dan d adalah milik kita bersama,” ujar Bisri.

Bisri juga meminta Muhammad Zahid selaku ketua EM UB untuk mengkoordinir sharing vokasi selanjutnya. Karena menurutnya masalah terkait kejelasan status Vokasi ini masih belum tuntas. “Setelah ini teman-teman kalau mau ketemu Pak Munir, ya silakan saja. Saya kira beliau mau membantu,” kata Bisri. (sin/ain)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.