Bisnis hiburan yang menjanjikan popularitas dan hidup glamor telah mengakar urat dalam kehidupan di kota Chicago, Illinois, pada tahun 1920. Banyak wanita, tidak terkecuali Roxie Hart, memimpikan dirinya sebagai aktris Burlesque Chicago yang terkenal. Namun demikian, mimpinya malah menyeret Roxie ke penjara akibat ditipu oleh kekasih gelapnya sendiri dengan iming-iming pekerjaan sebagai aktris. Masa pemenjaraannya tersebut justru membuat dirinya menjadi bintang dadakan berkat media massa di seluruh penjuru kota Chicago, sebelum akhirnya Roxie sadar bahwa masih ada hukuman gantung yang menunggunya.

Bersama dengan Velma Kelly, napi mantan aktris burlesque yang membunuh suami dan adiknya, Amos Hart, suami Roxie yang lugu dan melankolis, serta Billy Flynn, seorang pengacara kelas mahal yang super cerdik dan tamak, perjalanan Roxie menuju kebebasan dan panggung hiburan bisa kita saksikan dalam drama musikal satir ini.

Film Chicago yang dibuat keroyokan oleh Bob Fosse, John Kander, dan Fred Ebb ini diadaptasi dari drama broadway yang memiliki judul sama dan sudah dimainkan sejak tahun 1997. Fosse sendiri tumbuh di Chicago sedari tahun 1930-an, dan ia mengakui bahwa Chicago adalah kota dimana surat kabar dihiasi oleh judul berita yang dilebih-lebihkan, kongkalikong polisi-pengacara-reporter, dan surat kabar hanya diisi fiksi kacangan seperti kisah pembunuh yang diromantisasi. Hal ini menginspirasi beberapa adegan, dimana konferensi pers digambarkan selayaknya pertunjukan boneka, dan pengadilan yang diinterpretasikan sebagai sirkus.

Meski drama musikal bukan genre film paling populer, namun Film Chicago yang satu ini dipenuhi oleh lagu-lagu mempesona yang diiringi tarian spektakuler, dan tentunya disertai dengan alur cerita yang mendukung dan memberikan jeda yang cukup bagi penonton untuk menarik napas di antara lagu-lagu yang ditampilkan.

Rob Marshall dan Bill Condon menyajikan lagu-lagu yang ada tanpa menginterupsi dramanya, dan membuatnya seakan-akan hanya ada dalam imajinasi sang tokoh utama, Roxie Hart, sehingga semuanya nampak sedikit berlebihan dari yang seharusnya.

Ada pula beberapa momen dimana lagu tersebut ditampilkan langsung dari tokoh itu sendiri, seperti lagu “Mr. Cellophane” (Tuan Plastik) yang dibawakan oleh Amos Hart akibat kesedihannya ditinggal oleh orang yang disayangi dan tidak dianggap ada layaknya plastik. Kebanyakan bagian dari film ini berlangsung dengan suasana sinis yang kental namun gemerlap.

Karena alur cerita yang mengandung tema kriminal, adegan seksual yang eksplisit, serta beberapa adegan kekerasan lain yang terjadi di dalamnya, film ini tidak disarankan bagi penonton di bawah umur. Meski demikian, “Chicago” sekilas tampak tidak mungkin difilmkan, apalagi secara musikal, namun nyatanya film ini sangat layak untuk dinikmati dari segala sisi, baik sinematografi, koreografi, plot, dan lagu-lagunya, terutama bagi penggemar musik berselera tinggi dengan sentuhan Jazz dan Rag. Tidak heran, film musikal ini telah menyabet 6 penghargaan sekaligus di Academy  Award 2003.

Penulis:  Ajeng Gradianti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.