MALANG-KAV.10 Dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP), Women’s Crisis Center (WCC) Dian Mutiara menggelar talk show bertema “Dating Violence, apakah melanggar HAM?”, di Aula Fakultas Hukum Gedung A lantai 6 Universitas Brawijaya, Malang, Kamis (10/12). Talkshow ini membahas bagaimana pacaran sering menimbulkan kekerasan tak hanya fisik namun juga psikis

Umi Dayati, praktisi Dosen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri Malang menyatakan pentingnya sikap saling menerima saat berpacaran.   “Pacaran harus self acceptance, terima apa adanya” tegasnya.

Ia mencontohkan, ketika pacaran terdapat panggilan khusus dimana panggilan khususnya tersebut merupakan gambaran fisik pasangannya, misalnya “ndut” artinya gendut. Akibatnya akan mematikan rasa percaya diri pasangannya,  merasa dirinya gendut dan kemudian timbul rasa takut untuk kehilangan pasangannya karena tidak percaya diri.

Umi melanjutkan, suatu hubungan pacaran diperlukan self acceptance (terima diri apa adanya), kemudian muncul self confident (kepercayaan diri). Berawal dari menerima diri apa adanya kemudian akan muncul kepercayaan diri. Anak muda masa kini dalam berpacaran mudah untuk disugesti maupun di manipulasi.

Menguatkan pernyataan Umi sebelumnya, Umu Hilmy yang merupakan pengajar dan peneliti buruh migran perempuan di FH UB menyatakan bahwa bentuk kekerasan psikologis tersebut dapat berupa dibohongi dan atau dibanding-bandingkan dengan orang lain.

“Banyak perempuan-perempuan yang mudah sekali dibohongi pasangannya dijanjikan ini itu percaya, sampai terjadi kekerasan pacaran yang dialami adalah kehamilan diluar nikah” jelasnya.

Beliau menegaskan bahwa pendidikan psikologi itu penting sehingga pada waktu proses berpacaran tidak terjadi hal-hal yang merugikan. (vna/ziz)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.