MALANG-KAV.10 Ani Atul Arif, M Rizatul Yunus, Dwi Pujiana dan Kisruh Wulan prihatin terhadap peternak lebah. Para peternak memproduksi madu dengan cara tradisional.

Mahasiswa dari berbagai fakultas ini pun berinovasi. Mereka menciptakan ekstraktor madu. Inovasi ini mereka namakan beetech.

Beetech yaitu pemeras madu portable. Alat ini dilengkapi dengan sensor kadar air. Sensor bekerja untuk mengetahui kadar air dalam madu. Semakin sedikit kadar air maka kualitas madu semakin bagus.

Ekstraktor madu tersebut ditujukan untuk peternak lebah yang sering masuk ke dalam hutan, sehingga madu yang dihasilkan dapat langsung digunakan.

“Ini sangat praktis, mudah dibawa ke mana-mana, memudahkan peternak lebah untuk mengetahui kualitas madunya dan meningkatkan nilai jual sehingga tidak tertipu oleh tengkulak,” ujar M Ilham salah satu anggota tim saat ditemui pada acara Creator Fest (18/11).

Dari alat ini, petani lebah tidak perlu memeras sarang madu dengan tangan untuk memisahkan madu dari sarang. Hal ini bisa merusak mutu dan kualitas madu.

Beetech bekerja secara otomatis. Waktu bekerjanya selama 10 jam. Jika baterai habis, pengguna perlu memutar tuas untuk memeras madu secara manual.

Ketika tuas diputar, energi yang dihasilkan dapat diubah menjadi energi listrik untuk mengisi daya baterai yang tadi habis sehingga dapat digunakan secara otomatis kembali.

Karya mereka memikat perusahaan produksi madu. Beberapa peternak lebah pun sudah memesan alat tersebut.

Namun alat ini saat ini belum bisa diproduksi. Tim masih ingin menyempurnakan kembali sistem otomatis dan manual agar memenuhi standar nasional.

Rencananya beetech akan rilis tahun depan dengan harga kisaran Rp 2 juta.

Afifah, salah satu pengunjung Creator Fest mengatakan, inovasi mereka sangat menarik.

“Mereka kreatif dan mampu menemukan kekurangan di lapangan menjadi lebih baik dan lebih murah tentunya,” ujar mahasiswa jurusan Matematika ini.

Hari kedua ajang unjuk karya mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) pada hari Rabu (18/11) di Samantha Krida masih menarik minat pengunjung untuk datang pada acara Creator Fest tersebut.

Berakhirnya Creator Fest yang diselenggarakan selama dua hari yaitu pada tanggal 17-18 November 2015 diharapkan menginspirasi mahasiswa UB untuk mengembangkan karyanya.

“Acara tahunan ini diharapkan terus terselenggara ditahun-tahun berikutnya untuk memperkenalkan karya inovatif mahasiswa UB,” ujar Rakiwana, Ketua Pelaksana.(vna)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.