MALANG-KAV.10 Dari semua fakultas yang menjalankan rangkaian PKK-Maba, Program Vokasi tampil sedikit berbeda lewat atribut yang digunakan mabanya.

Dari pengamatan wartawan Kavling 10 di lapangan, dari 16 fakultas yang ada, hanya maba Vokasi yang menggunakan tas karung sebagai salah satu atributnya. Tas ini yang disandang maba Vokasi selama dua hari mengikuti PKK-Maba.

Ari Wahjudi, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan Program Vokasi, mengatakan itu memiliki fungsi bagi maba. Sama seperti atribut lainnya seperti name tag yang digunakan seluruh maba UB.

“Kalau saya menangkap atribut ini bukan bentuk perploncoan, karena tidak menunjukkan hal aneh-aneh kepada maba,” ujarnya.

Apakah ini menimbulkan perbedaan mencolok terhadap maba lainnya, Ari menilai pandangan semacam ini tidak perlu lagi terjadi ke depannya.

“Tanpa sadar kita mulai terbawa konsep devide et impera era penjajahan Belanda,” terang Ari. Dari konsep itu, tambah Ari, mahasiswa dibuat seolah terpisah-pisah kemudian setelah terpisah dibuatlah sebuah persaingan antar mahasiswa.

Potensi perploncoan tetap ada, meski PKK-Maba cenderung lebih baik dari beberapa tahun belakangan. Ari menilai praktek tersebut hanya berubah bentuk, lewat pemberian tugas salah satunya.

Tugas yang diberikan kepada maba mestinya sesuai dengan kompeten masing-masing bidang fakultas dan tidak perlu mempersulit mereka.

“Di Vokasi, panitia memang detail memberikan aturan tugas, tetapi maba berhak menyesuaikan dengan keinginanya,” kata Ari. Terkait manja atau tidak, itu nanti ada evaluasi terkait akademik kepada maba.

PKK-Maba Program Vokasi hari kedua dilaksanakan di gedung Sport Center UB dengan mengusung tema Proud of Vokasi. Sekitar 810 mahasiswa terdaftar sebagai mahasiswa Vokasi. (eff)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.