Panglima TNI : Perlu Strategi Negara Ekuator Mengahadapi Pertikaian Energi

MALANG-KAV.10 Konflik dunia yang terjadi saat ini mayoritas diawali oleh konflik perebutan energi , Kira-kira konflik seperti ini telah mencapai 70% dari total jumlah konflik dunia.

Arab spring sebagai pusat tambang minyak menjadi sarang pertikaian seperti Yaman, Libya, Suriah, Kongo, Irak, dan lainnya. Minimal Negara-negara ini memiliki jumlah 200 ribu barrel per hari.

Konflik yang terjadi di Ukraina juga dipicu karena energi. Diperkirakan sekitar 10 juta barrel dihasilkan di Ukraina sehingga memancing pertikaian yang ada.

Ini semua merupakan pembukaan dari materi Panglima Gatot Nurmantyo di Gedung Samanta Krida Universitas Brawijaya (1/9).

Kelak pada tahun 2043, diramalkan energi fosil di dunia akan habis sehingga beralih dengan energi nabati. Pada tahun 2007-2008 sudah menunjukkan kenaikan yang menginteprestasikan mulai berkurangnya energy fosil. Sehingga potensi konflik akan beralih dari Negara penghasil minyak ke Negara ekuator (Negara Garis Khatulistiwa –red). Hal ini disebabkan oleh potensi energy nabatinya.

Belum lagi negeri ekuator juga penyokong pangan dunia karena mendapat panen sepanjang tahun yang dibagi dengan produksi energy nabati juga. Maka negeri ekuator menjadi daerah paling rawan konflik atas potensi pangan sekaligus energinya.

“Perang saat ini adalah perang energi dan perang masa depan adalah perang pangan, energi, dan air di satu tempat,” jelas Gatot dalam materinya.

Pada sesi penutup Panglima berbintang empat ini memberi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk menjawab persoalan ini pada posisi presiden Negara non equator. Ade Arfa salah satu Maba menjawab, “Saya akan melakukan kerjasama dengan Negara Indonesia dan Negara ekuator lainnya. Lalu akan menghentikan peperangan”. Dalam penutupannya, Gatot mengapresiasi jawaban Maba atas jawaban tersebut. (krd/gum)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.